Menipisnya sumber energi di dunia seolah memaksa manusia untuk mencari alternatif sumber energi lain yang dapat diperbaharui.

Setelah sebelumnya para peneliti telah berhasil membuat etanol dari ekstrak tebu dan jagung, kini para peneliti ternyata juga berhasil membuat etanol dari buah semangka.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasi Journal Biotechnology for Biofuels menunjukan bahwa ‘sisa’ semangka dari kebun-kebun di Amerika dapat dikonversikan menjadi 9.4 juta liter atau 2.5 juta galon etanol yang kemudian dapat digunakan untuk menggerakan mobil, truk, atau bahkan pesawat.

Penelitian ini seolah memberi angin segar bagi dunia industri, terlebih bila kita melihat kenyataan bahwa semangka merupakan buah yang ‘sensitif’ dan karenanya 20-40 persen hasil panen semangka itu mudah cacat dan akhirnya membusuk di kebun. (lebih…)

Iklan

Peneliti di Nevada AS menemukan, sisa kopi bisa diubah menjadi bahan bakar biodiesel yang murah, tersedia dalam jumlah besar, serta ramah lingkungan. Bahan bakar ini bisa digunakan untuk menjalankan mobil dan truk.

Peneliti Mano Misra, Susanta Mohapatra dan Narasimharao Kondamudi mengatakan masalah utama penggunaan bahar bakar biodiesel secara luas adalah kurangnya sumber yang murah serta berkualitas tinggi untuk menghasilkan bahan bakar itu.

Sisa kopi bisa menyelesaikan masalah itu karena berisi 11 hingga 20 persen minyak dari total beratnya. Jumlah itu setara dengan bahan biodiesel tradisional dari kedelai atau kelapa sawit.

Diperkirakan sisa kopi mencapai 16 miliar pon di seluruh dunia setiap tahun. Sisa kopi ini rata-rata dari produksi espresso, cappuccino dan kopi tradisional. Ilmuwan memperkirakan sisa kopi bisa menyediakan 340 juta gallon biodiesel untuk memenuhi kebutuhan dunia. (lebih…)


Jamur bisa menghasilkan hidrokarbon untuk pembuatan bahan bakar diesel (Foto: Pravda)

MONTANA – Tanaman yang ditumbuhi jamur menghasilkan campuran hidrokarbon yang bisa dijadikan bahan bakar diesel. Dengan hasil temuan terbaru, ilmuwan berharap mereka bisa membelah gen DNA jamur untuk dicangkokkan ke mikroorganisma lain dan memprosesnya menjadi bahan bakar.

Mahalnya harga bahan bakar gas dan minyak bumi membuat negara-negara maju dan juga berkembang berupaya mencari cara untuk mendapat sumber energi alternatif.

Pravda, Kamis (6/8/2009) melansir, bahan bakar alternatif berbasis ethanol yang dihasilkan dari jagung atau batang tebu, belum cukup mengatasi masalah ini. Pasalnya, untuk memproduksi satu liter ethanol membutuhkan hidrokarbon mentah dalam jumlah yang sama. Hidrokarbon adalah bahan kimia yang bisa menghasilkan bahan bakar diesel. (lebih…)


Sebuah perusahaan di Maryland di bawah kontrak Pentagon telah membuat sebuah robot yang dapat mengisi energy dirinya sendiri dengan material organic, seperti rumput, kayu, furniture tua bahkan mayat manusia. Perusahaan Robotic Technology Inc. tersebut telah menciptakan Energetically Autonomous Tactical Robot (EATR), yang dapat menemukan, mencerna, dan mengekstrak energy dari bioma lingkungan dan sumber energy organic lainnya, sama halnya dengan mengisi bahan bakar tradisional dengan gas, kerosin diesel, propan, dan solar. (lebih…)


Peneliti di North Carolina State University telah mengembangkan sebuah cara untuk mengonversi minyak sayuran dan minyak lainnya dari lemak hewan menjadi bahan bakar jet untuk menggerakkan pesawat terbang. Teknologi yang mereka temukan – yang disebut Centia – 100 persen merupakan teknologi hijau, karena tidak ada produk asal petroleum yang ditambahkan ke dalam proses tersebut. Karena tidak ada jelaga atau zat partikulat yang terkait dengan bahan bakar dari lemak, maka bahan bakar yang dihasilkan oleh proses-proses baru ini juga membakar lebih bersih, sehingga lebih baik bagi lingkungan.

Dr. William Roberts, profesor teknik mekanik dan aerospace dan direktur Applied Energy Research Laboratory di NC State, mengembangkan proses biofuel tersebut bersama dengan Dr. Henry Lamb, profesor di bidang kimia dan teknik biomolekuler; Dr. Larry Stikeleather, profesor teknik biologi dan agrikultur; dan Tim Turner dari Turner Engineering di Carrboro, N.C.

Roberts mengatakan bahwa disamping 100 persen hijau, teknologi baru ini memiliki beberapa kelebihan kunci dibanding proyek-proyek biofuel lainnya. (lebih…)


Dr. Ir. M. Hafnan Meng

Setelah enam tahun meneliti, Dr. Ir. M. Hafnan Meng akhirnya menemukan sebuah racikan zat aditif yang bisa mencampurkan solar dengan air. Fomula ini dia namakan solar hijau karena diklaim lebih ramah lingkungan dan bisa menghemat penggunaan solar.

Hafnan menyatakan bahwa apa yang dia lakukan dengan  mencampurkan solar dengan air secara prinsip sesungguhnya sudah dilakukan di luar negeri sejak 1980-an, terutama di negara Eropa dan Amerika. Di Eropa bahan bakar ini dikenal dengan nama water blend diesel fuel .

Jadi, apa yang membedakan temuan Hafnan dengan water blend diesel fuel ? Menurut Hafnan, WBDF (water blend diesel fuel) adalah campuran solar dengan air berbentuk milky (seperti cairan susu). Sedangkan formula  miliknya, setelah dicampur solar, air akan menyatu ketika ditambahkan dengan zat aditif tertentu. Formula dari zat aditif tersebut adalah temuan dari penelitiannya selama ini. (lebih…)


Para peneliti dari Universitas Arkansas, Amerika Serikat, berhasil menemukan sebuah proses yang dapat mengubah lemak dan asam lemak rantai panjang dari ayam menjadi bahan bakar biodisel (biodiesel fuel).

Proses yang mereka temukan disebut dengan Supercritical Methanol. Melalui proses tersebut 90% lemak ayam mampu diubah menjadi biodisel.

Selama dalam proses Supercritical Methanol, lemak ayam dipanaskan pada tekanan tinggi sampai mencapai critical point-nya atau titik kritisnya, yaitu temperatur dan tekanan tertinggi dimana uap dan cairan suatu zat berada dalam kondisi kesetimbangan.

Selain itu, proses supercritical methanol tidak memerlukan katalis dalam proses konversi lemak ayam menjadi biodisel sehingga menjadi lebih kompetitif secara ekonomi.