Sebuah waduk keciltempat menampung kotoran babi serta hewan ternak lain, tak hanya membuat bau lingkungan di sekitarnya. Waduk ini juga bisa mencemari aliran sungai, meracuni air tanah dan lebih parah lagi dapat meningkatkan kadar gas metan dan karbondioksida di udara.

Untuk itu, ilmuwan berlomba-lomba mencari cara alternatif untuk memanfaatkan kotoran hewan. Salah satu yang tengah gencar dilakukan adalah mencoba mengubah kotoran hewan agar menghasikan energi listrik ramah lingkungan. Namun masalahnya, belum ditemukan cara yang paling efektif dalam mengolah kotoran hewan menjadi sumber energi.

Tim ilmuwan yang dipimpin Trakarn Prapaspongsa dari Denmark kemudian menganalisa beragam cara yang digunakan perusahaan-perusahaan di Denmark dalam menangani kotoran babi. Mereka rata-rata memanfaatkan kotoran itu untuk menghasilkan listrik dengan menggunakan sistem seperti pencernaan anaerob atau incinerator (pembakaran).

Seperti dikutip dari New Scientist, Rabu (28/10/2009), dalam sistem pencernaan anaerob, bakteri memecah kotoran atau sampah dengan memanaskannya di dalam sebuah bejana bebas oksigen, kemudian melepaskan gas metan yang di gunakan dalam turbin gas. Sementara itu, incinerator membakar material untuk mendidihkan air dan menggerakkan turbin uap yang akan menghasilkan listrik. 

Tim dari Aalborg University ini kemudian menemukan bahwa untuk efisiensi tinggi dalam produksi energi, cara pencernaan anaerob merupakan jawabannya.

Namun jika bermaksud meminimalisir emisi gas rumah kaca, maka kita harus mengambil prioritas. Pilihan terbaik adalah dengan cara memisahkan sampah bermateri padat dengan yang cair. Keringkan material padat, kemudian barulah membakarnya.

Sumber : calvinblog.co.cc