Presiden Yudhoyono.(foto : presidensby.info)

Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak kepada seluruh masyarakat untuk merefleksikan tiga moment sejarah dari perjalanan kehidupan bangsa Indonesia yang telah berjalan selama 64 tahun.

“Ada tiga momen sejarah bangsa yang perlu direnungkan,” kata Presiden dalam Pidato Kenegaraan di depan Rapat Paripurna DPR RI, di Jakarta, Jumat.

Presiden mengatakan tiga momen sejarah yang perlu direfleksikan adalah tentang makna proklamasi kemerdekaan 1945 dan bagaimana untuk mengaktualisasikan semangat kemerdekaan ini di masa kini dan masa mendatang.

Selanjutnya tentang dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945.

“Ini merupakan tonggak sejarah, karena kalau kita lihat benang merahnya, sesungguhnya bangsa Indonesia yang baru merdeka saat itu, ingin betul mencari bentuk atau sosok demokrasi yang diyakini paling tepat untuk negeri ini,” katanya.

Momen berikutnya adalah pada tahun 1999 yang merupakan awal dari era reformasi yang ditandai dengan dua hal penting yaitu untuk pertama kalinya dilakukan amandemen terhadap konstitusi yaitu Undang-Undang Dasar 1945, berakhirnya Dwi Fungsi ABRI yang juga berarti berakhirnya peran politik ABRI dalam kehidupan bernegara.

Presiden mengatakan kemerdekaan sebagaimana disampaikan oleh proklamator kemerdekaan, Bung Karno, adalah sebuah “jembatan emas”.

“Melalui `jembatan emas` itulah bangsa Indonesia meninggalkan kegelapan alam penjajahan dan memasuki alam kemerdekaan dengan penuh sinar harapan,” katanya.

Presiden juga mengatakan, kemerdekaan Indonesia direbut, diraih, dan dipertahankan dengan segala pengorbanan, yaitu dengan darah, keringat, dan air mata.

Selain itu, menurut Presiden revolusi kemerdekaan Indonesia telah menjadi salah satu revolusi besar di abad ke-20 yang turut mengubah dunia.

“Setelah Perang Dunia II berakhir, bangsa Indonesia adalah salah satu bangsa yang paling awal memproklamasikan kemerdekaannya. Setelah itu, api revolusi kemerdekaan dengan cepat menjalar ke berbagai penjuru di Asia dan Afrika,” katanya.

Akibatnya, ujar Presiden, peta politik dan geopolitik dunia di abad ke-20 berubah secara drastis dan Indonesia adalah pelopor dalam arus dekolonisasi yang dahsyat itu.

Presiden menegaskan, semua itu mengingatkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pejuang dan semangat luhur ini tidak boleh padam bahkan dalam konteks era demokrasi dan globalisasi dewasa ini.

“Semangat perjuangan ini justru menjadi semakin relevan dalam upaya kita bersama mewujudkan Indonesia yang maju dan unggul di abad ke-21. Kita harus terus menjaga karakter perjuangan ini dan mewariskannya kepada generasi mendatang,” katanya.(ant/waa)

Sumber :  erabaru.net