Zundoi Altangerel membawa patung Budha salah satu relik yang digali dari situs penguburannya di Khamaryn, kawasan Gurun Gobi.

Menggali harta karun terpendam di Gurun Gobi terdengar seperti adegan pembuka dari film Indiana Jones. Tapi tidak bagi Michael Eisenriegler, pria kelahiran Austria, karena baginya itu adalah petualangan hidup yang nyata.

Arkeologis amatir berusia 40 tahun ini berada di Gobi selama akhir minggu, membantu untuk menggali relik-relik Buddha yang telah terkubur selama lebih dari tujuh dekade di daerah terpencil Mongolia. Kurang dari satu jam, penggalian ini telah menemukan dua peti yang berisi harta karun yang tak ternilai, termasuk manuskrip langka, patung Buddha, dan pakaian.

Relik-relik ini dulu merupakan bagian kecil dari karya seni yang ada di kuil Khamaryn, 450 km di tenggara ibu kota Mongol, Ulan Bator. Kuil tersebut dijarah dan dihancurkan atas perintah dari pemerintah komunis pada tahun 1937, tetapi sebelumnya seorang biarawan bernama Tuduv berhasil menyembunyikan sebagian besar barang-barang suci tersebut.

Awalnya, sekitar 1.500 peti harta tersimpan di kuil. Tuduv berhasil menguburkan 64 peti. Sisanya telah dihancurkan. Setelah menyembunyikan peti-peti itu, Tuduv melarikan diri dari pembantaian dan menjadi pengelana.

Selama beberapa dekade dia mengawasi peti-peti tersebut sambil mempersiapkan cucunya untuk mengambil tanggung jawab mengurus harta itu. Tuduv menyimpan rahasia ini selama beberapa dekade sampai akhirnya mengungkapkan kisah ini kepada cucunya, Zundoi Altangerel.

Ketika kebebasan beragama mulai diizinkan seiring berakhirnya komunisme pada tahun 1990, Altangerel menggali sepertiga dari peti-peti tersebut dan menaruhnya dalam museum baru. Eisenriegler mengunjungi museum tersebut pada tahun 2008, berjumpa Altangerel, dan mengetahui bahwa masih banyak peti yang terkubur di Gurun Gobi.

Museum itu tampaknya tidak cukup aman untuk menyimpan semua artefak yang ada sehingga Altangerel membiarkan sekitar 20 peti terkubur di gurun. Kakeknya telah membuat dia mengingat persis lokasi dari semua peti.

Eisenriegler meyakinkan para sejarawan untuk menggali peti-peti yang masih terkubur. Itu dilakukan pada Sabtu (1/8) bersama dengan tim gabungan para ahli dari Mongol dan Austria untuk memeriksa barang-barang yang berhasil mereka temukan.

“Kakek moyang saya melindungi peti-peti ini selama bertahun-tahun. Sekarang tugas saya untuk melindungi peti-peti ini,” tegas Altangerel seusai penggalian. “Kami berencana untuk menggali peti-peti yang tersisa di masa mendatang.”

Usaha ini difilmkan dan disiarkan secara langsung di internet. Pengguna web yang masuk ke situs tersebut, http://www.gobi-treasure.com, didorong untuk mendonasikan uang, yang akan diberikan kepada Altangerel untuk memperbaiki museumnya. Pengunjung situs dapat menyaksikan usaha penggalian yang berlangsung selama 45 menit, pengangkatan peti-peti dari dalam tanah, dan melihat isinya.

Peti-peti itu berisi artefak berharga termasuk patung perunggu, kitab suci atau sutra dan harta lainnya. Altangerel dengan hati-hati mendata barang-barang dalam peti dan menjelaskan makna masing-masing benda. Banyak yang merupakan alat musik, kemungkinan digunakan dalam upacara Buddha di kuil. Dia menunjukkan sebuah drum kecil yang menurutnya adalah sebuah mainan anak-anak.

Peti-peti itu juga berisi manuskrip-manuskrip. Sejarawan tertarik untuk mempelajari teks-teks tersebut, berharap mendapatkan petunjuk mengenai kehidupan sehari-hari di Khamaryn Khiid. Teks ini juga diharapkan bisa membantu sejarawan lebih mengerti tentang pendiri dari kuil, Danzan Ravjaa, yang hidup dari tahun 1803 sampai 1856.

Danzan Ravjaa

“Kami melakukan ini sebagai cara untuk memperkenalkan Danzan Ravjaa kepada Barat,” jelas Eisenriegler. “Dia pantas untuk dipelajari dan dikenal di Barat. Kami juga ingin bangsa Mongol untuk lebih mengenal sejarah mereka dan Danzan Ravjaa adalah bagian penting dari itu.”

Danzaan Ravjaa paling dikenal sebagai penulis opera pertama Mongol, Saran Khokhoo, atau “Moon Cockoo.” Dia mementaskan opera ini di berbagai kuil di sekitar gurun Gobi, mengumpulkan uang untuk membangun proyek di kuilnya.

Biarawan legendaris ini menulis ratusan puisi, menggelar opera pertama Mongol, dan mendirikan sekolah serta museum. Legenda mengenai tindakan-tindakan ajaibnya masih dibicarakan di antara pengembara Gobi.

Ketika Danzan Ravjaa meninggal, tubuhnya dimumikan dan ditempatkan di dalam White Temple Khamaryn Khiid. Di sekitar jenazahnya, diletakkan tumpukan peti harta karun. Relik-relik itu tersimpan di sana sampai tahun 1930-an ketika pasukan Mongol menutup kuil tersebut dan menangkap sebagian besar biarawan, menuduh mereka sebagai aktivis kontrarevolusi.

Sumber : kompas.com