Keberadaan manusia kecil juga bisa dilihat pada catatan kuno di China. Dalam sebuah buku Ye Yu Qiu Deng pada zaman Dinasti Qing diceritakan tentang manusia kerdil yang tinggal di lubang pohon.

Disebutkan: Di Pulau Macau, Provinsi Guangdong, ada seorang pedagang bermarga Chou bernama Duan, kerap kali pergi ke berbagai negeri untuk berdagang. Suatu hari, terjadi angin topan, tapi mujur, dia terhindar dari bencana dan sampai di sebuah teluk, setelah angin reda, Chou Duan mendarat di pulau dan berjalan-jalan. 

Di pulau itu, Chou melihat banyak pohon yang layu, pohon yang besar bisa sepuluh peluk diameternya, di pohon itu banyak lubangnya, dan di dalam lubang itu tinggal manusia kerdil. Panjang manusia kecil itu hanya sekitar 7-8 inci, ada yang tua, muda, laki-laki dan wanita, kulitnya kasar seperti kulit buah berangan. Anggota badan dan pinggangnya setipis pisau, benda-benda seperti busur, panah dan benda lainnya, ukurannya serasi dengan ukuran orangnya. Melihat hal itu, Chou menghampiri mereka dengan bersiul, namun karena kebelet buang hajat, Chou melepas celana dan jongkok di bawah, sambil merokok terus mengamati mereka. Tiba-tiba terdengar suara ingar-bingar, dari tempat tertinggi deretan pohon layu itu, tampak seperti susunan sebuah kota setinggi lutut, ditata dengan batuan hitam. Begitu gerbang kota terbuka lebar, barisan manusia kerdil keluar, melambaikan bendera dan berseru, dari setiap lubang pohon manusia kerdil keluar menyambut, dan berkumpul mendengar perintah. Di antaranya tampil seorang pemuda, berparas menarik, bermahkota emas lembayung menandakan dia adalah pemimpin mereka, mulutnya komat-kamit entah mengucapkan apa, sepertinya menyerukan: “Serbu”.

Chou terperanjat, dirasakan seruan itu ditujukan kepadanya, namun tidak digubrisnya, dia tetap berjongkok. Si pemuda kembali komat-kamit lagi beberapa saat, Chou tidak memberikan reaksi, kembali terdengar komando menyerbu. Panah kecil, senapan kecil, pisau kecil, tombak kecil beterbangan, terasa sakit menusuk tubuhnya. Timbul sifat jahatnya, dengan iseng pipa rokoknya ditusukkan pada si pemuda, tak dinyana, si pemuda langsung terjungkal dan mati. Barisan manusia kerdil ramai-ramai menggotong pulang mayatnya, gerbang kota ditutup rapat. Sedangkan manusia kerdil lainnya semua masuk ke lubang pohon. Dan Chou juga kembali ke kapal.

Malam yang hening, namun di pantai berkumpul manusia kerdil, bergerombol mondar-mandir di pasir pantai sambil berteriak-teriak, sepertinya sedang menyusun kekuatan kembali untuk menyerang, sesaat kemudian mereka bubar, malam pun kembali sunyi. Chou merenung sendiri: Jika bisa menangkap barang 1 atau 2 orang, dan dibawa pulang ke kampung halaman, bisa diperlihatkan dengan bangga. Pada hari kedua pagi, dilaksanakanlah rencana semalam, dengan membawa kantung kain dan kampak kembali ke tempat semula, ditebangnya sebatang pohon, di dalamnya terdapat manusia kerdil yang cukup banyak, bahkan ada yang masih tertidur pulas, mungkin merupakan satu keluarga, tiada satu pun yang lolos dan dimasukkan semuanya ke dalam kantung.

Setelah kembali ke kapal, mereka diberi makan nasi, dan ternyata juga menyukai buah song. Tepat di saat Chou akan pergi, manusia kerdil yang berada di darat berkumpul menyemut di pantai, mulut mereka sepertinya sedang mencaci maki, dan panah kecil meluncur menghujani perahu, orang yang berada di atas kapal menggerutu dan cemas, berlayar cepat meninggalkan mereka. Kurang lebih satu bulan kemudian, Chou kembali ke Guangdong, dan mencari orang yang paham tentang manusia kecil, katanya dia adalah orang dari negeri Jiao. Katanya, makhluk itu bisa dijadikan makanan, rasanya manis, dan penakut, tidak berani bepergian sendiri, takut digulung ombak lautan. Chou merasa gembira, dimasukkannya manusia kerdil ke dalam kotak kristal, dan dibawa ke pasar dijadikan tontonan, dan karena itu ia memperoleh uang yang banyak.

Dan belakangan dikisahkan bahwa manusia kerdil itu diberikan kepada orang lain, dipelihara dan dibuatkan rumah kecil, manusia kerdil itu tahu akan tata kerama, tahu diri, kecerdasan dan kebiasaan hidupnya tidak ada bedanya dengan orang biasa zaman sekarang, hanya kecil saja ukurannya.

Keberadaan manusia kecil juga tercatat dalam catatan Bie Guo Dong Ming karya Guoxian dari Dinasti Han. Disebutkan: Panjang manusia dari negeri Lehua 3 inci, bersayap, tutur bahasanya halus dan suka bercanda. Negerinya pun dinamai sesuai dengan perangai mereka yang baik; kerap kali terbang bergerombolan berjemur matahari, setelah badan hangat baru kembali, menghirup embun sebagai makanannya. Karena mengonsumsi embun, maka di saat Matahari terbit badannya berkilauan bagai mutiara. Guoxian menceritakan bahwa tulisan atau aksara manusia negeri Lehua agak kecil, namun dengan melihat sebagian sudah bisa tahu keseluruhannya. Dengan berjemur di bawah sinar mentari, dan baru kembali setelah badannya hangat, menyerap energi Matahari, sama seperti master Qigong masa kini yang berlatih, berkomunikasi dan menyerap energi alam semesta.

Manusia kecil juga merupakan salah satu di antara 3 peristiwa yang dimuat dalam sejarah Dinasti Xiatai Zi Bu Yi. Disebutkan: Saat penilik sekolah Tuan Xia Ligu berlayar menuju Hunan, melewati danau Dongting, datang badai menerjang, memaksa perahu berlabuh, entah untuk berapa lama. Xia merasa gelisah, berharap segera bisa melaksanakan tugasnya, ia pun memerintahkan kepada pengemudi kapal agar berlayar menentang angin, setelah tiba di tengah danau, angin semakin kencang, langit dan bumi menjadi gelap, gelombang laut bagaikan gunung tingginya. Dan mendapati, di atas permukaan air ada 2 manusia pendek, tingginya hanya beberapa inci, mukanya sedikit hitam, menyerempet pedoman kapal, seperti peronda. Banyak orang di kapal yang melihatnya. Dan setelah angin reda dan Matahari bersinar kembali, berangsur-angsur pergi bersembunyi.

Lalu, kenapa manusia-manusia kerdil ini sekarang sudah tidak ada lagi? Apakah karena bentuknya yang terlalu kecil, tidak cocok untuk hidup di lingkungan Bumi dan secara berangsur-angsur lenyap dalam sejarah? Master Li Hongzhi, pendiri Falun Gong sudah memberi jawabannya.

Sumber : erabaru.net