Desertec berencana membangun pembangkit listrik tenaga matahari seluas 6.500 mil persegi di Gurun Sahara. (DESERTEC)

Sebuah proyek energi dunia paling ambisius yang pernah dipikirkan, Proyek Desertec, mungkin segera akan dikerjakan di Afrika Utara.

Awalnya merupakan impian para ilmuwan dan insinyur Eropa, Proyek Desertec berencana membangun pembangkit listrik tenaga matahari seluas 6.500 mil persegi di Gurun Sahara Afrika Utara, bersamaan dengan jaringan transmisi super kabel tegangan tinggi untuk memenuhi kebutuhan listrik negara-negara di Eropa dan Afrika.

Proyek itu akhirnya mendapat dukungan dana dari konsorsium perusahaan raksasa dan berbagai organisasi seperti Deutsche Bank AG, Siemens AG, Trans-Mediterranean Renewable Energy Cooperation, The Club of Rome, dan masih banyak lainnya. Proyek ini bertujuan untuk memenuhi hingga 15 persen dari total energi yang dibutuhkan benua Eropa.

Pembangunan pembangkit listrik matahari Desertec dan kabel-kabel transmisi sampai 2050 diperkirakan membutuhkan biaya sekitar 400 milyar euro ($560 milyar).

Sebuah proyek dengan cakupan dan biaya yang sangat besar ini telah menuai sambutan dan kritik dari para ahli.

Proyek Desertec akan menyalurkan energi daur ulang menuju arus utama dengan menciptakan energi yang bersih, bebas CO2, dan stabil yang dihasilkan dari matahari itu sendiri. Meninggalkan penggunaan bahan bakar fosil, Desertec adalah sebuah lompatan besar dalam hal teknologi, kreativitas dan mesin.

“Sekarang adalah masa yang tepat untuk memulai gagasan ini, seiring dengan perlindungan iklim telah menjadi persoalan mendesak dan ekonomi kita membutuhkan terobosan baru.” kata Alexander Mohanty, seorang juru bicara dari Munich Re, sebuah perusahaan asuransi Jerman terkemuka yang membuka jalan bagi proyek ini.

Kritikus suarakan keluhan

Tetapi para kritikus mangatakan bahwa ini adalah suatu proyek yang mahal – dan menggunakan teknologi matahari sekarang ini mungkin belum tentu dapat mencapai efisiensi maksimum – hal ini seharusnya dipikirkan dengan matang.

Perusahaan energi raksasa Swedia, Vattenfall AB yang telah memperluas jaringan operasinya di Jerman, tidak mendukung usaha ini.

“Biaya yang dihabiskan terlalu banyak,” kata CEO Vattenfall Lars Josefsson, dalam suatu wawancara dengan Financial Times. “Di samping itu, biaya transmisinya juga tinggi. Saya pikir itu tidak realistis.”

“Eropa seharusnya memproduksi listrik di negaranya sendiri,” ia menyimpulkan.

Sebagai alternatif, Josefsson percaya dengan membangun pembangkit listrik tenaga batu bara lebih banyak yang memiliki teknologi CCS yang lebih baru dan bertujuan merendahkan emisi CO2.

Ketakutan beberapa ahli bahwa jika produksi listrik Eropa yang demikian besar dikontrakkan ke Afrika, itu akan menciptakan ketergantungan politik pada negara-negara di Afrika Utara, yang sebagian masih memiliki lingkungan politik yang tidak stabil.

Pengadaan pemusatan pembangkit listrik tenaga surya di Afrika juga menimbulkan kerentanan terhadap serangan teroris. Jika seseorang menyerang kabel transmisi, maka hampir seluruh Eropa tidak memiliki listrik.

Pemusatan tenaga surya

Pembangkit listrik tenaga matahari menggunakan metode menyerap energi matahari yang disebut dengan pemusatan tenaga matahari (CSP, Concentrating Solar Power). Cara kerjanya sangat mirip dengan membakar sebuah kertas dengan sinar matahari melalui sebuah kaca pembesar.

Prinsipnya sama, yaitu dengan mengatur seperangkat kaca pembesar dan cermin yang menghasilkan pantulan sinar matahari yang sangat kuat. Sinar matahari ini memanaskan air, mengubahnya menjadi uap yang memutar turbin untuk menghasilkan listrik. Listrik ini kemudian dihantarkan melalui kabel-kabel transmisi tegangan tinggi ke para pengguna.

Pada malam hari, tenaga yang dihasilkan saat siang hari disimpan dalam baterai khusus sehingga memungkinkan turbin-turbin tetap berputar saat malam hari. membuat suatu sistem pembangkit yang bekerja 24 jam.

Metode CSP seharusnya dibedakan dengan energi photovoltaic (sel surya yang dapat menghasilkan listrik bila terkena sinar matahari), yang tidak memanaskan air, tetapi langsung menghasilkan listrik dan menyimpannya di dalam baterai.

Pembangkit listrik CSP ini pada umumnya lebih bersih, lebih murah dan membutuhkan biaya pemeliharaan yang lebih rendah dibandingkan dengan pembangkit energi photovoltaic.

Di sisi lain, energi photovoltaic tidak tergantung secara terpusat, maksudnya adalah bahwa panel-panel surya dapat dibeli oleh siapa saja dan dapat ditempatkan di atas atap, memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar. (llya Rzhevskiy/The Epoch Times/pls)