Kompleks Damai yang seperti labirin, arsitektur bangunannya yang unik dan presisi tetap kokoh seperti sedia kala walaupun telah diterpa hujan dan angin selama ratusan tahun.(FOTO INTERNET)

Di Kecamatan Xindian, Kota Xinzheng, Propinsi Henan ada sebuah desa langka yang dinamai “Kompleks damai”. Struktur lokasinya menyerupai bentuk cangkang penyu, tiga sisinya dikelilingi air, mudah dipertahankan namun sulit untuk diserang, tinggi tembok kompleks mencapai 20-30 meter, menara meriam di desa itu saja terdapat sekitar 30 unit.

Menurut legenda desa tersebut dibangun oleh para hartawan dari 31 desa sekitar dengan menghabiskan waktu selama lebih 20 tahun untuk membentuk perlawanan terhadap kawanan perampok di sekitarnya.

Di dalam kompleks yang dibangun sekitar 1859, masing-masing rumah atrium saling menyatu dengan membentuk kombinasi lorong/gang buntu misterius sebanyak 72 jalur.

Menurut pemberitaan situs Dahe, “Rumah-rumah di sini sangat unik, umumnya ruang utama rumah di sini dirancang dengan prinsip 3 jelas 5 tersembunyi, artinya yang terlihat hanya 3 kamar, namun sesungguhnya ada 5 kamar. Di kedua sisi pada ketiga kamar tersebut terselip dua daun pintu lain yang serong posisinya. Jika tidak berada di depan pintu tersebut sama sekali tidak akan terlihat dari luar”, begitu penjelasan Pan Yongzhi (56), seorang juru tulis tua di Kompleks Damai sambil menunjuk ke salah satu rumah tua warga desa itu.

Rumah atrium tua milik sebuah keluarga bermarga Li agak terawat dengan baik. Pintu kamar utama masih seperti wujud aslinya, ambang pintu yang tinggi dengan papan daun pintu tebal.

Di belakang daun pintu, terdapat 4 buah lubang tempat palang pintu. Baik di dalam maupun luar rumah terdapat pilar-pilar yang dicat merah, terutama pilar di luar, bentuknya yang silinder, sama sekali tidak ada bedanya dengan tiang listrik bahan semen masa kini.

Si empunya rumah mengatakan, sebelum direnovasi, dari layout interior kamar utama bisa terlihat tempat pembantu menuang air, mestinya bukan milik orang sembarangan. Dinding bata di luar diukir dengan pola-pola yang sangat indah, namun kemudian telah dirusak.

Pan Yongzhi mengatakan, dulunya rumah-rumah kuno ini saling membentuk lorong berbentuk huruf “T” sebanyak 72 jalur, ada lorong buntu, ada yang di bagian atasnya terdapat lubang pengintai dan lubang untuk melepaskan tembakan, keseluruhan kompleks itu seperti sebuah labirin.

Jangankan orang asing, bahkan warga desa yang kurang hafal dengan susunannya pun akan tersesat di dalamnya. “Rancangan tata desa yang baru telah mengubah susunan lorong huruf “T” yang sebenarnya, 72 jalur lorong tersebut sudah tidak ada lagi, dan sebagian besar bangunan kuno telah rusak. Sangat disayangkan.”

KIRI ATAS: Tembok pagar rumah dan bentuk atap yang indah menunjukkan kehebatan teknik pertukangan pada masa itu. KIRI BAWAH: Lubang ini jika dimasukkan dengan sebatang kayu besar bisa dijadikan sebagai palang pintu kokoh. KANAN: Lorong-lorong kecil misterius yang tersebar di seluruh

Pada 1859 zaman Dinasti Qing, 31 buah desa bekerja sama untuk membangun kompleks tersebut. Karena di sebelah barat desa ada sebuah jembatan tanah sederhana, maka dinamakan Kompleks Jembatan Tanah. Lalu kemudian berubah nama menjadi Kompleks Damai.

Kompleks Damai terletak di sebelah Barat Daya dari Kota Xinzheng, dan sekitar 6,2 km arah Timur Laut pemerintah Kecamatan Xindian. Sebelah utara, timur, dan selatan desa itu dikelilingi oleh air.

Menurut penuturan para orang tua, dulunya tembok Kompleks Damai jauh lebih tinggi dari pada tembok Kota Xinzheng, panjangnya mencapai 4,5 km dengan lebar 13 kaki.

Ada juga orang tua yang menyebutkan bahwa tembok Kompleks Damai memiliki lubang senapan 9 buah lebih sedikit dari pada tembok Kota Xinzheng. Dari empat buah gerbang kompleks hanya gerbang timur dan gerbang barat yang dibuka, umumnya gerbang selatan dan utara tidak dibuka, disana terdapat puing-puing menara meriam, ternyata di bagian atasnya terdapat sebuah “meriam sembur”, yang berdiameter besar bahkan tangan seorang dewasa pun tidak dapat melingkarinya, namun kini semuanya sudah tidak terlihat lagi.

“Pada waktu itu, yang dapat tinggal di tempat ini adalah orang-orang yang “sangat tangguh”, banyak orang yang membeli tanah dan membangun usahanya disini dan merasa bangga karenanya. Setelah para hartawan ini menetap disini, mereka berswadaya sesuai dengan tingkat kekayaannya mengeluarkan uang dan para pemuda, lalu pihak pengawas kompleks membagikan senjata bagi mereka.”

Pan Yongzhi mengatakan, karena posisinya yang mudah dipertahankan dan sulit diserang ini, telah menarik minat para hartawan dari 31 desa sekitar untuk membeli tanah dan membangun rumah disini. Kala itu, di radius sampai 10 kilometer adalah tanah milik desa mereka.

“Kompleks Jembatan Tanah (Kompleks Damai) dan sarang lebah liar, orang luar tidak berani menyentuh”. Pan Yongzhi mengatakan, di akhir Dinasti Qing, meski kawanan perampok telah merampas habis semua desa di sekitar sini, namun mereka hanya berani memandang tanpa berani memasuki Kompleks Damai ini, tidak pernah sekali pun mereka berhasil menerobos masuk. (Dajiyuan/whs)

Sumber : erabaru.or.id