Saat kita menengadah memandang langit, kita mungkin membayangkan bahwa pada alam semesta ini pada kenyataannya terdapat tak terbatas banyaknya dunia kehidupan secara bersamaan, saling berevolusi sejajar. Kita semuanya hidup secara bersamaan di dalam banyaknya dunia kehidupan yang tak terbatas ini, melakukan sesuatu yang berbeda-beda, dan segala benda pada tiap dunia mempunyai kehidupan tertentu dan bentuk evolusinya sendiri. Ini kedengarannya seperti fiksi ilmiah, namun inilah isi pokok teori mekanika kuantum banyaknya dunia (Many Worlds Theory).

Teori banyaknya dunia dikemukakan pertama kali pada tahun 1957 oleh Winfried, doktor fisika Universitas Princeton, kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh fisikawan kosmik Amerika yang paling terkenal, yaitu ahli teori relativitas Profesor John Hawley. Kemudian ahli fisika dari generasi ke generasi selanjutnya meneruskan penyelidikannya.

Profesor terkenal dari Universitas Oxford, Inggris, David Deutsch, yang diakui sebagai salah satu pemimpin dunia fisika teoritis dunia. Pada bulan September tahun 2001, jurnal Amerika yang terkenal Discovery, telah memuat wawancara risalah khususnya, yaitu memperkenalkan teori banyaknya dunia (Many World Theory).

Sejak awal abad ke-20, para fisikawan kuantum menemukan, bahwa segala partikel mikro seperti elektron, proton, atom, dan lain-lain, semuanya memiliki sebuah sifat yang unik. Pada saat yang sama, bisa berada di sini dan berada di sana, artinya bahwa sebuah partikel mikro pada saat yang sama bisa berada di banyak tempat dalam ruang waktu, mereka bagaikan memiliki teknik memisahkan badan, akan tetapi di saat dengan serius mengamatinya, hanya bisa menemukan mereka di satu tempat. Ini sangat berlainan dengan yang kita alami dalam kehidupan, yang juga membuat semua fisikawan menjadi bingung. Hingga sampai pada abad ke-20 di tahun 1950-an, barulah masalah ini dapat terpecahkan setelah dikemukakan tentang teori banyaknya dunia.

Pendapat tentang teori banyaknya dunia adalah bahwa pada kenyataannya terdapat banyak dunia kehidupan yang tak terbatas. Dalam setiap dunia ini, sebuah partikel mikro memiliki sebuah posisi yang pasti, maka kelihatannya partikel mikro itu bagaikan berada di ruang pada setiap tempat. Setiap sekali kami melakukan survei, yaitu dengan memilih sebuah dunia di antara banyaknya dunia yang tak terbatas ini, maka partikel yang berada di posisi itulah yang benar-benar berhasil kami survei.

Profesor Deutsch berpendapat, bahwa teori mekanika kuantum ini tidak saja cocok digunakan pada mikrokosmos, juga cocok digunakan pada makrokosmos. Sebab semua benda makroskospik, termasuk kita sendiri adalah melalui hasil pembentukan partikel mikroskosmik, meskipun berada di wilayah mikrokosmis, maka eksperimen yang tak terhitung banyaknya telah membuktikan keandalan mekanika kuantumnya. Begitu juga pada wilayah makroskospik, juga sama semestinya dapat digunakan. Setiap orang pada waktu bersamaan juga berada dalam ruang yang berlainan, meskipun kita sendiri tidak bisa menyadari hal demikian. Namun pada kenyataannya, tidak hanya orang, bumi ini, dan bahkan segenap alam semesta memiliki (pemisahan badan) yang tak terbatas. Mereka secara bersamaan berada di dalam dunia besar yang tak terhingga, di dalam setiap dunia, semua mempunyai bentuk evolusi tertentu. Maka pandangan atau konsepsi mengenai hanya ada satu dunia pada kenyataannya merupakan pandangan yang keliru.

Pada umumnya, kita tidak dapat merasakan adanya banyak dunia kehidupan, kita juga nyaris tidak bisa mengetahui di ruang waktu lainnya, apa yang sedang dilakukan oleh diri kita yang lain.

Namun, jika dengan cermat mengendalikan keadaan eksperimen, kita bisa sebagaimana dalam eksperimen “pribadi ganda” dan eksperimen lainnya, maka dalam sekejap mata bisa melihat keberadaan banyaknya dunia. Deutsch, tokoh maestro besar dunia fisika teoritis ini berpendapat, bahwa teori ini adalah satu-satunya penjelasan terhadap gejala aneh mekanika kuantum, karena didasarkan pada persamaan ilmu pasti yang cermat dan hasil sejumlah besar eksperimen.

Profesor Deutsch mengritik fisikawan tertentu yang tidak dapat menerima teori banyak dunia, adalah karena mereka tidak berani mengubah konsep tradisi untuk memikirkannya, hanya berdasarkan pertimbangan pragmatisme dan penggunaan mekanika kuantum, namun tidak dengan serius memikirkan apa makna yang sesungguhnya di balik persamaan yang mereka gunakan setiap hari.

(Artikel Mo Xin Hai, Zhengjian.net)*