Dengan kemajuan teknologi, kebutuhan energi di Desa Meteseh, Kec. Kaliori, Rembangsana dapat diatasi dengan menggunakan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, murah dan mudah diperoleh dari lingkungan sekitar, yakni dengan kotoran ternak sapi. “Sudah banyak warga yang menggunakan biogas yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik, salah satunya kotoran sapi. Hal ini bisa terjadi akibat aktivitas bakteri anaerob pada lingkungan tanpa oksigen bebas!” kata Sugiono, petugas Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jateng yang sudah beberapa bulan ditempatkan di desa tersebut untuk memberikan pembinaan kepada masyarakat setempat.

Menurut Sugiono, secara prinsip pembuatan bio gas sederhana, yaitu memasukkan substrat (kotoran sapi) ke dalam unit pencerna (digester). Dalam waktu tertentu, biogas akan terbentuk yang selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi. Misalnya untuk kompor gas, lampu petromak, bahkan bisa untuk menghidupkan mesin pembangkit listrik berskala rumah tangga. Mengapa Desa Meteseh dijadikan sebagai tempat pengembangan energi alternatif dari kotoran sapi? Sugiono yang didampingi Kabag Infokom Suyono SH dan Kades Meteseh Wagiman menjelaskan, karena di desa tersebut tersedia bahan baku untuk pembuatan biogas. Menurut Sugiono, hampir setiap kepala keluarga memiliki 1-2 ekor sapi. Selain itu, masih ada 94 ekor sapi yang dikelola oleh kelompok tani gabungan asal desa setempat. Potensi kotoran sapi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan biogas besar, namun belum seluruhnya bisa dimanfaatkan. “Pemanfaatan kotoran sapi untuk pembuatan biogas setidaknya bisa membantu untuk memecahkan persoalan pencemaran lingkungan!” kata Sugiono.

Limbah pembuatan biogas, juga bisa dimanfaatkan untuk pupuk organik dengan mutu bagus. Selain itu juga bisa dibuat pupuk cair untuk tanaman pertanian, sehingga setiap proses pembuatan biogas memiliki efek samping yang menguntungkan.

Sumber : radmanblog.cn