Proyek Desertec tidak hanya membangkitkan listrik, tetapi produksi air bersih dan bahan pangan juga menjadi perhatian.

Sahara, padang pasir dengan luas 9.000.000 km2 dan merupakan yang terluas di dunia kini menarik minat para pengembang energi surya di Eropa, dan sebagian wilayahnya akan menjadi hutan reflektor surya. Sebuah konsorsium yang terdiri dari 20 perusahaan Jerman, bersama-sama menanamkan investasi sebesar 400 milyar Euro untuk membangun pembangkit solar thermal di gurun tersebut. Siemens, Deutsche Bank, RWE dan Munich Re adalah beberapa perusahaan yang menjadi anggota konsorsium tersebut.

Menurut informasi dari konsorsium tersebut, proyek tersebut akan memakan waktu 10 tahun sebelum akhirnya bisa mengalirkan listriknya pada tahun 2020. Solar thermal dianggap sebagai teknologi yang telah matang dan mempunyai efisiensi yang lebih baik dari photovoltaic.

Menurut Guenter Gloser, Deputi menteri luar negeri Jerman, seperti yang dikutip dari Reuters mengatakan bahwa Desertec, nama proyek tersebut, rencananya akan membangkitkan 100 GigaWatt. Area total yang digunakan untuk lokasi pembangkit pun hanya seluas 20.779 km².

Untuk mengalirkan listrik dari lokasi pembangkit hingga ke Eropa, Desertec tidak akan menggunakan transmisi AC. Teknologi transmisi HVDC (High Voltage Direct Current) atau arus searah tegangan tinggi dianggap lebih baik untuk mengalirkan listrik dari benua Afrika menuju Eropa. Pertimbangannya adalah rugi-rugi yang timbul hanya sebesar 3% untuk transmisi sejauh 1.000 kilometer.

Jika pembangunan Desertec sesuai rencana, maka pembangkit solar thermal yang mendapatkan 6 jam radiasi matahari maksimal tersebut akan memenuhi kebutuhan 15% listrik Eropa dan juga negara-negara di Afrika dimana lokasi pembangkit tersebut berada, seperti Maroko, Algeria dan Mesir sepanjang tahun.

Sumber : planethijau.com