“Sampai Usia Lima Tahun Masih Suka Emut Benda”

Kamis (18/6) siang pukul 12.00 Wita, cuaca panas terik. Ahmad Saifan Nur berbaring di lantai kamar rumahnya di Jalan Damanhuri Samarinda Utara. Bagian depan rumah ini juga difungsikan sebagai toko bahan bangunan. Saifan menelan gembok.

BOCAH ini berusia 4 tahun, biasa dipanggil Ifan, anak ketiga dari tiga bersaudara pasangan Irham dan Marwiyah. Begitu mendapat dot berisi penuh susu, dia langsung masukkan ke mulut, perlahan matanya mulai terserang kantuk.

Tiba-tiba Ifan tersedak, nafasnya tersengal. Susu yang baru saja diminumnya dimuntahkan. “Hmm, hmmm, hmm, mbok…,” suara Ifan tak terdengar jelas. Ibunya yang sedang berbaring di atas ranjang seketika panik.

“Kamu kenapa, telan apa?”

“Mamam..mbok…”

“Kamu makan gembok?”

Ifan mengangguk, nafasnya masih tersengal. Kakinya diangkat, kepalanya menggantung di bawah. Tubuhnya digoncang-goncang, gembok yang besarnya seujung ibu jari orang dewasa itu tak berhasil keluar dari mulutnya. Hanya air susu yang berhasil dimuntahkan.

Tanpa pikir panjang, Marwiyah bersama kerabatnya langsung melarikan anak bungsunya ke Rumah Sakit Islam Samarinda. Irham, ayah Irfan, langsung bertolak ke Samarinda dari tempat kerjanya di Muara Badak, begitu mendengar kabar anaknya menelan gembok.

Saat dijenguk di Rumah Sakit Islam Samarinda, siang kemarin, Ifan sedang bermain, berlari-lari di koridor rumah sakit bersama kedua kakaknya, Irma dan Zaki. Tangan kanannya memegang makanan ringan. Sesekali ia masuk Ruang Perawatan Agathis nomor 3, tempat di mana dia dirawat.

“Tadi sudah di-rontgen, hasilnya sudah ada perubahan posisi. Hasil rontgen yang kedua, posisi gemboknya sudah ada penurunan, sudah mulai masuk usus. Kalau hari pertama, posisinya di lambung,” sebut Irham. Ia menunjukkan dua hasil foto rontgen, memperlihatkan bayangan berbentuk gembok. “Gemboknya kecil, biasanya untuk tas. Warna kuning emas,” sambungnya.

Menurut Irham, dokter masih menunggu perkembangan posisi gembok di dalam perut putranya. “Mudah-mudahan bisa keluar normal. Kalau memang ngga bisa, kemudian anaknya kesakitan, mau ngga mau harus dioperasi. Tapi mudah-mudahan bisa keluar sendiri,” harapnya. Obat yang diberikan untuk Ifan adalah obat penebal usus, agar logam yang bersarang di perut bocah itu tidak melukai dinding usus dan bisa keluar dengan mudah.

WASPADA

Dokter spesialis anak dari RSU AW Sjahranie Samarinda, dr Sukartini SpA ketika dihubungi menyampaikan, anak-anak dari usia 6 bulan sampai usia 2 tahun, bahkan hingga usia 5 tahun, masih suka memasukkan benda-benda ke dalam mulut.

“Sampai usia lima tahun, masih ada anak yang suka ngemut-ngemut benda,” sebutnya. Namun, semakin besar usia anak, kebiasaan itu akan semakin berkurang. Karena itu, para orang tua harus mengenali kebiasaan buah hati mereka.

“Kalau anaknya suka memasukkan benda ke dalam mulut, jangan pernah memberikan mainan yang ukurannya kecil, bahaya, bisa tertelan,” sarannya. Sukartini pun mengaku pernah ada pasien yang tertelan roda dari mobil mainan.

“Berikan anak-anak mainan yang tidak mudah tertelan. Sebab kalau tertelan, yang ditakutkan kalau masuk saluran nafas, anak bisa meninggal dunia. Kalau cuma masuk perut tidak terlalu bahaya,” pungkasnya. ***

Sumber : kaltimpos.web.id