Tubuhnya di kubur dengan posisi berdiri didalam tanah, hanya kelihatan kepalanya saja. Setelah beberapa waktu ia sangat kehausan dan lapar kemudian disampaikan” kami akan memberikan makan dan minum yang enak menurut kemauanmu asal engkau mau kemanapun kami perintahkan pergi”. Karena haus dan laparnya orang itu menyanggupi permintaan tersebut. Lalu diminta untuk membuka mulutnya agar dapat minum, setelah orang tersebut membuka mulutnya yang di tuang ke dalam mulut orang tersebut bukanlah air sejuk pengobat dahaga, tetapi cairan timah panas yang sedang menggelegak sehingga orang itu pun mati seketika itu juga. Itulah ritual yang dilakukan “orang dahulu” untuk membuat penjaga kampung atau sejenis santet pembunuh “musuh” yang di sebut Pangulubalang surusuruon.

Setelah beberapa hari cairan berasal dari lelehan mayat tersebut disebut ”dane” dimasukkan kedalam wadah dari tanah (sejenis gentong kecil), sedangkan daging dan tulang nya di gongseng hingga menjadi bentuk bubuk disebut “pupuk” disimpan dalam satu wadah lain. Disebut “pangulubalang” setelah cairan “dane” dan bubuk “pupuk” dicampur dengan ramuan-ramuan lainnya.

Untuk penjaga kampung didirikan tiga buah batu dengan sudut segitiga didalam pondok kecil yang di letakkan di sudut kampung atau disamping gerbang masuk kampung. Setelah di manterai di oleskan cairan dane dan pupuk, inilah yang di percayai untuk menjaga kampung.

Untuk Santet Musuh dikumpulkan bahan-bahan :

– Tanah Kuburan

– Tanah Longsor

– Buah enau yang jatuh

– Air dari arus yang berputar

– Air dari air yang tenang

– Tanah yang banyak di tumbuhi pohon perdu.

Kemudian seluruh bahan tersebut di giling hingga halus kemudian di campur sedikit “dane” dan “pupuk” . Kemudian ramuan tersebut diberi sajen di manterai dan diperintahkan untuk membunuh musuh yang dituju. Dikirimlah seorang yang berani sebagai kurir untuk menyiram ramuan tersebut baik dihalaman rumah musuh, di samping rumah maupun di tempat-tempat yang sering dilalui orang yang dituju. Inilah yang di sebut “Pangulubalang Surusuruon. Sedangkan manusia untuk korban biasanya diambil dari musuh yang tertawan atau diculik dari kelompok/kampung musuhnya.

Sungguh kejam memang perbuatan tersebut, semoga tidak ada lagi orang yang melakukan praktek tersebut. Kegiatan ini dilakukan di Tanah Batak pada jaman dahulu, dimana animisme masih sangat kental. Bila kita lihat di suku-suku lain di dunia juga kita akan menemukan praktek-praktek animisme yang hampir sama dan sangat tidak manusiawi.

Upacara Tradisi Karo Tahun 1970

Dengan masuknya Nommensen ke tanah Batak, terjadi perubahan kepercayaan masyarakat terhadap tradisi yang berbau animisme tersebut. Namun tradisi yang dianggap tidak bertentangan terus di pertahankan demi kelangsungan kebudayaan batak yang di warisi dari nenek moyang orang batak. Semoga kita nantinya dapat mewarisi nilai budaya batak terhadap anak dan cucu kita, walaupun kita ada dalam perantauan jangan sampai mereka tidak mengetahui asal usul nenek moyangnya dan budayanya sendiri.

Sumber : infogue.com