Awang Faroek Ishak dan Farid Wadjdy menerima gelar kehormatan dari warga Dayak Kaltim

SAMARINDA, KOMPAS.com – Suku Dayak Kenyah yang tinggal di Desa Pampang Samarinda, menggelar ritual pesta adat atau pelas tahun, sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta setelah melakukan panen.

“Pesta adat pelas tahun tersebut rutin digelar setiap tahun  dan menjadi kalender pariwisata Kota Samarinda,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Infokom Kota Samarinda, Robby Hartono, Kamis.

Ia mengatakan, Desa Pampang dijadikan sebagai desa budaya, karena dihuni oleh suku Dayak Kenyah yang dulunya berasal dari wilayah utara Kaltim. Mereka dulunya bercocok tanam dengan cara berpindah-pindah dan akhirnya menetap di Desa Pampang.

Sebelumnya turis lokal maupun mancanegara yang ingin melihat budaya Suku Dayak, mereka harus datang ke pedalaman Kaltim, tetapi sekarang mereka cukup datang di Samarinda, karena jaraknya hanya  sekitar 12 kilometer dari pusat kota.

“Suku Dayak Kenyah di Pampang merupakan aset budaya Samarinda yang patut dilestarikan, dikembangkan, dan dipromosikan,” katanya.

Menurut Robby, pesta adat yang akan digelar pagi ini  merupakan pesta adat kesepuluh kalinya dilakukan sejak 1999. Dalam Pelas tahun kali akan diberikan gelar adat kepada Wakil Wali Kota Samarinda, Syahrie Ja’ang sebagai pemimpin yang mampu melindungi masyarakatnya. Pada tahun sebelumnya diberikan gelar kepada Wali Kota Samarinda, Achmad Amins.

Dia menjelaskan, di Desa Pampang setiap hari minggu digelar kegiatan kesenian di Lamin (rumah panjang) berupa tari-tarian baik oleh para orang tua, remaja maupun anak-anak.

Suku Dayak yang memiliki ciri khas kuping panjang dan bertato tersebut bersedia untuk difoto sebagai kenang-kenangan bagi para pengunjung.

Dia mengatakan bahwa para penari Suku Dayak yang ada di Desa Pampang sering diundang untuk mengisi acara ulang tahun kedutaan-kedutaan RI, seperti di Jepang, China, Amerika, Belanda, Jerman, Swiss, Belgia, dan lainnya.

Adapun tingkat kunjungan wisatawan asing dalam satu bulannya berkisar puluhan orang, sementara wisatawan domestik mencapai 50 hingga 100 orang.

Robby menambahkan, Desa Budaya Pampang memang belum gencar dipromosikan keluar negeri sehingga tingkat kunjugan wisatawan mancanegara masih sedikit.

Dalam melakukan promosi Desa Pampang perlu bantuan dari Pemerintah Kota Samarinda, Pemprov Kaltim maupun Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.