TEMPO Interaktif, Berlin : Kuda liar mulai didomestikasi di kawasan padang rumput Ponto-Caspian, yang saat ini terbagi menjadi beberapa negara seperti Rusia, Kazakhstan, Ukraina, dan Rumania, pada milenium ketiga sebelum Masehi. Hal itu terungkap berdasarkan riset DNA purba dalam rentang waktu antara Pleistosen Akhir dan Zaman Pertengahan, dengan sasaran gen nuklir yang bertanggung jawab atas pewarnaan yang mengungkap waktu dan lokasi domestikasi kuda.

Meski kuda memainkan peran penting dalam sejarah kehidupan manusia, proses penjinakan kuda menjadi binatang peliharaan tidak dimengerti dengan baik. Untuk mengungkap misteri proses domestikasi mamalia itu, sejumlah peneliti Jerman dari Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, Berlin, German Archaeological Institute, Humboldt University Berlin, Max Planck Institute of Evolutionary Anthropology, Leipzig, bekerja sama dengan ilmuwan Amerika dan Spanyol melakukan analisis DNA kuda.

Hasil studi baru itu dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science. Studi tersebut menunjukkan seberapa cepat jumlah pewarnaan meningkat sebagai satu hasil domestikasi. Analisis itu juga memperlihatkan betapa luasnya variasi warna pada kuda domestik yang ada saat ini sebagai hasil persilangan selektif yang dilakukan para peternak di masa lampau.

Masyarakat manusia modern yang mulai terbentuk pada revolusi Neolitikum, yang ditandai dengan transformasi tumbuhan dan satwa liar menjadi tanaman dan binatang peliharaan yang siap memenuhi kebutuhan nutrisi manusia. Di antara semua binatang domestik, tak ada spesies lain yang memiliki dampak signifikan terhadap transportasi, komunikasi, sampai perang seperti kuda.

Selama beberapa milenium, kuda kerap dikaitkan dengan perubahan kekuasaan dalam sejarah di sebuah benua, semisal prajurit Iskandar Agung atau Genghis Khan yang menginvasi sebagian besar wilayah Asia dan Eropa Timur, bahkan Francis Pizarro yang menghancurkan Kerajaan Inca hanya dengan 30 prajurit berkuda. Kuda juga telah dianggap sebagai binatang yang amat berharga sepanjang masa dan dijadikan sebagai hadiah dari seorang penguasa kepada yang lain sebagai sebuah status kebangsaan.

TJANDRA DEWI | SCIENCEDAILY

Sumber : tempointeraktif.com