Percut Sei Tuan-Perjalanan hidup AL(12) terbilang tragis. Sejak kecil, dia tak merasakan kasih sayang seorang ayah. Umur 1 tahun, AL (foto) dan ibunya, Ratna (40), ditinggal pergi. Demi membiayai putra semata wayangnya, Ratna harus banting tulang jadi tukang cuci.

Dibalik sifat pendiamnya, AL ternyata sosok bocah yang sadar bagaimana kerasnya hidup. AL sadar bagaimana ibunya tiap hari mendatangi rumah-rumah orang untuk mencuci pakaian. AL juga sadar semua itu dilakoni ibunya demi dia.

Melihat ibunya tiap hari berangkat pagi dari kediaman mereka di Percut Sei Tuan, AL merasa iba. Apalagi, penghasilan ibunya hanya cukup-cukup makan sementara mereka tinggal bertiga bersama Basiah (77), nenek AL.

Meski tak tahu caranya, AL bertekad membantu ibunya cari uang. Dia tak mau jadi beban ibunya. Sayangnya, kepolosan AL dimanfaatkan manusia tengik yang menghalalkan segala cara demi lembaran rupiah. Manusia tengik itu berinisial M. AL mengaku baru mengenalnya 3 minggu belakangan ini.

Tahu AL cari kerja demi bantu ibunya, Jumat (5/6) lalu, M menawarkan pekerjaan dengan penghasilan minimal Rp 50 ribu per hari. Jumlah duit itu terbilang lumayan buat AL. Dalam benaknya, ibunya akan terbantu dan tak perlu banting tulang demi dia. Tanpa memikirkan resiko, AL menyanggupi permintaan M untuk menjual ganja. Tiap ons ganja terjual, AL dapat upah Rp 50 ribu.

Niat suci AL harus dibayar mahal. Kemarin (7/6) siang, AL diboyong ke Polsek Percut Sei Tuan setelah polisi yang menyamar jadi pembeli, transaksi dengannya. 1 ons ganja yang disimpan AL di kandang ayam tetAL, ikut dibawa sebagai barang bukti. “Kita masih lakukan pengembangan untuk menangkap yang memberi barangnya (ganja-red),” ujar Kapolsekta Percut Sei Tuan, AKP Edy Bona Sinaga SH.

‘Aku Cuma Mau Bantu Ibu Karena Capek Nyuci’

Rumah semi permanen itu terlihat sunyi. Salam POSMETRO MEDAN disambut wanita lanjut usia. Dia adalah Basiah, nenek AL. Ratna sendiri masih bekerja. Dengan mata berkaca-kaca, Basiah berkata cucunya dimanfaatkan untuk menjual daun haram itu.

“Unyang ada duit?”ujar Basiah menirukan pertanyaan AL tiap kali minta jajan padanya. Bila memang punya duit, Basiah mengaku tak pernah menolak permintaan cucunya meski hanya memberi Rp 2 ribu. Kedatangan awak koran ini membuat tetAL berkerumun. Semua tetAL terlihat sedih dan iba mendengar AL ditangkap.

“Aduh dek, kek mana dia itu ya? Dipukuli nggak ya dia di situ (Polsek Percut sei Tuan-red)?”cemas para tetAL yang khawatir kepada bocah pendiam itu. Mereka juga merasa AL dijebak pemasok ganja itu. “Dia itu modelnya disuruh-suruh orangnya,”celoteh ibu-ibu yang berkumpul di belakang kediaman AL.

Beberapa menita kemudian, Ratna tiba di rumahnya. Dia ternyata sudah mendengar penangkapan putranya. Sambil terisak dan air mata mengucur, Ratna langsung memeluk Basiah. Ratna terlihat begitu shock. Hampir semua tetAL yang menyaksikan ikut menitikkan air mata.

“Aduh saya masih pening nak, nanti sajalah ya. Besok saya mau kerja lagi,”pinta Ratna saat mau diwawancarai. Terpisah, AL mengaku pasrah sebab niat dia hanya mau membantu ibunya. “Aku cuma mau bantu ibu karena capek nyuci,”tegas bocah berkulit gelap dan kurus itu.

Bocah penghobi bola kaki itu juga mengaku sudah 3 bulan tak masuk sekolah yang tak jauh dari kediamannya karena kerap diejek. “Udah tua kau, nggak cocok kau pakai celana merah,”terang bocah kelahiran 1996 itu mengulang ledekan teman-temannya. “Aku cuma mau bantu ibu aja bang, biar aku nggak minta-minta uang lagi,”paparnya sambil berjanji akan menyelesaikan sekolahnya setelah kasus yang membuatnya dipenjara itu berakhir.(reza)POSMETRO-MEDAN.COM

Iklan