Jacky Chan membantu PKC membuat lagu penyelamat nasib Guo Jia (=negara) - realitanya hanya membohongi rakyat kecil agar mencintai negara-partai, membelenggu orang Tionghoa seluruh dunia, jelas ini adalah konspirasi besar PKC. Gambar: Jacky Chan sedang akting menyanyi di internet rezim, Xinhua.net.

Mega bintang film kung fu kelahiran Hong Kong, Jacky Chan (Chen Lung 成龍) belakangan ini di forum komunikasi Bo Ao (pulau Hainan – Tiongkok) mengatakan, kebebasan di Taiwan dan Hong Kong terlalu banyak, maka itu kacau, “Orang Tionghoa perlu diketati”.

Begitu omongan itu keluar, langsung menuai bantahan dari berbagai kalangan pembela keadilan, ia dihujat sebagai penjilat PKC (Partai Komunis China).

Jacky Chan dituduh ngantek, kemungkinan terlalu menyepelekannya, persoalan ini bukan sesederhana ia hanya ingin cari muka kepada PKC, pada kenyataannya ia sebagai salah satu otak telah mengikuti sebuah konspirasi besar yang bakal dilakukan PKC.  

Tatkala luar negeri sedang panas-panasnya mencerca Jacky Chan, Xinhua.net dengan cara penonjolan judul berita penting mengekspos berita pada halaman pertama bahwa “Jacky Chan diwawancarai eksklusif oleh Xinhua.net berbincang tentang persembahan lagu Guo Jia (baca: kuo cia, = negara) dengan didampingi rombongan pencipta Guo Jia.

Demi sebuah lagu MTV untuk mencari muka terhadap PKC, sampai bisa mendirikan situs khusus di Xinhua.net dan xinlang.net milik rezim PKC dan dinamakan internet pemerintah Guo Jia, bukanlah persoalan sembarangan.

Bersamaan dengan itu, menurut website tersebut, sumbangan lagu ini telah menggerakkan formasi luxus, “Diikuti tokoh papan atas dan dikerjakan dengan dana besar”. Sedangkan Jacky Chan dipercaya oleh PKC sebagai direktur kompeten acara persembahan tersebut, selain dari awal mengikuti perencanaan, pengorganisasian, juga berpasangan duet dengan Liu Yuanyuan si “penyanyi bendera merah (komunis)” serta khusus menyanyikan Wakil Irama Masa Kini.

Mengapa PKC begitu antusias dengan lagu tersebut dan tak tanggung-tanggung dalam pengerahan SDM dan promosinya? Konon, “Sasaran besar”nya ialah “agar di setiap keluarga orang Tionghoa seluruh dunia melantunkannya”.

Dicermati lebih mendalam lagi ternyata tidaklah rumit. Dalam tindakan tipikal PKC dalam mencuci otak seseorang, selain dengan cara keras perangsangan melalui perolehan medali emas di bidang olah raga yang sudah sering dilakukan, juga menggenggam erat-erat propaganda seni dan budaya. Di dalam sejarah, PKC menggunakan Model Opera, menciptakan “cinta dan benci” dalam pertentangan kelas, menggunakan lagu revolusioner untuk menaikkan spirit, generasi demi generasi harus “Mengakui partai sebagai sang ibu”.

Sesudah reformasi keterbukaan, lagu lama tak laku lagi, diubahnya dengan memuji theme song, mengikat erat konsepsi partai dan negara, mempropagandakan: “Cinta partai adalah cinta negara (愛黨就是愛國)”.

Meski PKC dari atas sampai bawah pada bobrok, melakukan kejahatan dengan maksimal dan rakyat dari kecewa sampai beralih menjadi total putus asa, theme song semakin lama tak memperoleh pasar. Dalam percekcokan di kalangan rakyat kecil, yang paling melegakan ialah kalau bisa memaki pihak lawan dengan sebutan: “komunis”.

Dari situ bisa dilihat bahwa kejengkelan masyarakat sudah sedemikian memuncak, yang membuat PKC keder sampai tidak berani menyanyikan teks lagu wajib mereka sendiri, karena kata-kata menghasut di dalam lagu Internasional seperti: “orang-orang yang tak mau menjadi budak”, “bangkit, bangkitlah”, dan teks di dalam lagu kebangsaan seperti: “kita bangun tembok besar baru”, “menempuh risiko terkena tembakan meriam musuh”, “majulah maju” dan lain-lain suku kata yang memprovokasi, kebetulan cocok dengan semakin mendekatnya hari kiamat PKC dan suasana hati rakyat yang berontak akibat tekanan rezim.

“Komunis” telah menjadi si tikus penyebrang jalan yang dihujat dan diteriaki “bunuh!” oleh orang-orang, partai dan negara semakin tak bisa diikat dan dikonotasikan sama. Saat ini PKC yang selama ini piawai dalam membonceng seni dan budaya, sekarang tak ada lagi lagu yang dinyanyikan. Kalau begini terus, pada harlah ke-60 nanti apa tidak lantas menjadi hari kiamat (bagi dirinya sendiri)?”

Di dalam kondisi kepepet mereka terinspirasi dengan Jacky Chan, yang akan memikul tugas politik maha besar melalui “lagu penyelamat” yang didaur ulang demi kebangkitan PKC.

Ikatan partai dengan negara telah hilang kemujarabannya, maka ia hendak menyimpan “jantung partai” di dalam kosakata negara, “PKC mendirikan rezim”melalui perebutan kekuasaan diubah menjadi “mendirikan negara” dan “harlah negara leluhur”. Rencana perayaan besar 60 tahun “pendirian negara” (pada 1 Oktober 2009 nanti), dengan sendirinya terselip pemujaan partai dan pernyataan isi hati yang cinta partai. Lantas siapa yang memuja, siapa yang mencinta, sebuah konspirasi besar dalam menghadapi rakyat di daratan dan kaum Tionghoa perantauan telah dikeluarkan dari sangkarnya – “Mendustai keluarga kecil untuk mencintai negara yang besar, pada intinya balik ke cinta partai”.

Mengikat negara dengan keluarga, agar setiap keluarga memuja negara PKC dan membantu merealisir pengikatan warga RRT untuk kali ke dua oleh PKC. Jacky Chan cs mengikuti niatan PKC melahirkan sebuah “lagu kebangsaan baru”yang membutakan hati nurani, “Sesudah berunding berkali-kali, telah melahirkan teks lagu Guo Jia, ‘Jia = rumah adalah negara terkecil, negara terbentuk dari jutaan rumah………’”, yang disebut “telah mengekspresikan kecintaan negara terhadap ‘rakyatnya, telah mencatat kerinduan rakyat kepada negara.” Dan “tekad negara dan perasaan keluarga, dinyanyikan bersama menjadi musik yang harmonis” Dengan jelas, telah menggunakan lagu rakyat untuk memuja negara-partai, mendambakan negara-partai, menyanyikan bersama negara-partai, dan pada akhirnya bisa terseret ke liang kubur bersama-sama dengan PKC.

Ini adalah konspirasi yang begitu besar, Jacky Chan dipilih karena statusnya yang penuh daya tarik, dari antek yang menanti di luar tenda diangkat menjadi jenderal garis depan oleh PKC. Guo Jia telah menjadi modal politik Jacky Chan yang bermimpi ingin ngetop, sekarang ada kaki besar PKC yang bisa digandoli, Jacky Chan saat ini tak akan mempedulikan box office filmnya, yang dengan sepenuh hati ingin ia pegang ialah efek politik lagu theme song ini, ini adalah jiwa politiknya. Boleh dibilang, ini juga tali temali terakhir yang dilemparkan untuk mengikat warga Tionghoa dijadikan tumbal kubur sebelum PKC musnah.

Jacky Chan hendak menyanyikan Guo Jia membantu PKC mencuci otak menukar hati, maka dengan sendirinya faham demokrasi dan kebebasan menjadi hambatannya, “orang Tionghoa perlu diketati”jelas sepertinya keluar dari dalam hatinya. Bila hendak menangkal lagu bencana Guo Jia ini, yakni dengan cara tidak memberikan PKC dan anteknya pasar sedikitpun, barulah balasan yang paling telak.

(Ren Baimin/The Epoch Times/lie)

Artikel ini hanyalah mewakili sudut pandang si penulis