Mamut beku yang kondisinya nyaris sempurna kembali muncul ke permukaan setelah 40.000 tahun, memberi petunjuk tentang spesies raksasa yang punah.

DUKA SANG INDUK

Kawanan mamut mendekati sungai yang deras. Seekor anak mamut berjalan di dekat kaki induknya yang besar, sesekali menggesekkan belalai ke bulu kaki induknya yang panjang dan berkilau. Langit biru cerah dan angin kering berdesir melintasi rerumputan yang bergoyang laksana ombak laut di stepa selebar 18.000 km yang membentang di busur utara dunia Zaman Es. Musim dingin yang panjang telah berakhir; kicauan burung dan bau lempung basah memenuhi udara.

Mungkin kehangatan mentari membuat sang induk lengah dan untuk sesaat dia kehilangan jejak anaknya. Si bayi mamut mengeluyur ke sungai. Bayi betina itu terpeleset di tepi sungai yang licin dan meluncur ke dalam campuran lumpur, pasir, dan salju yang baru mencair. Si mamut kecil berjuang untuk melepaskan diri, tetapi setiap gerakan yang dibuat justru semakin menenggelamkannya. Lumpur memasuki mulut, belalai, dan matanya; Si kecil yang bingung itu megap-megap, tapi bukannya mendapat udara, malah lumpur yang memenuhi mulutnya. Anak mamut ini terbatuk-batuk, tersedak, dan dilanda kepanikan, lalu dia memekik nyaring ketakutan, sehingga induknya datang berlari. Karena mencoba mengisap udara sekuat tenaga, si bayi mamut menghirup lumpur jauh ke dalam trakea, menyumbat paru-parunya. Ketika induknya sampai ke tepi sungai, si bayi sudah setengah tenggelam dalam lumpur sedingin es dan meronta dengan sia-sia, mengalami gegar jiwa yang cepat. Sang induk menjerit dan berlari bolak-balik di tepi sungai yang lembek, sehingga seluruh kawanan berdatangan. Bledug itu menyaksikan anaknya tenggelam.

Malam turun. Kawanan itu melanjutkan perjalanan, tapi sang induk tinggal. Sinar bulan keemasan memetakan bayangan berpunuknya di lumpur yang berkilau. Bulan tenggelam, dan bintang berkelap-kelip di langit nan dingin. Menjelang fajar, untuk terakhir kalinya dia menatap tempat bumi menelan bayinya, lalu berpaling dan mengikuti kawanan mamut ke utara, menuju padang rumput musim panas.

PENEMUAN

Pada suatu pagi bulan Mei 2007 di Semenanjung Yamal, Siberia barat laut, seorang penggembala rusa kutub dari suku Nenets bernama Yuri Khudi berdiri di sebuah beting Sungai Yuribey bersama tiga putranya, bermusyawarah mengenai sesosok jasad kecil. Walau belum pernah melihat binatang seperti itu sebelumnya, mereka sangat mengenal jasad itu dari dongeng yang dinyanyikan orang Nenets di balai pertemuan pada malam musim dingin yang gelap. Ini bayi mamont, makhluk buas yang kata orang Nenets berkeliaran di dunia bawah yang gelap dan beku, digembalakan oleh para dewa neraka sama seperti Nenets menggembalakan rusa kutub di tundra. Khudi sudah sering melihat gading mamut, batang berpilin warna kuning madu setebal batang pohon yang ditemukan sukunya setiap musim panas. Namun, dia tak pernah melihat binatang yang utuh, apa lagi yang demikian awet bak mukzizat tersebut. Selain rambut dan kuku yang tak ada lagi, bagian tubuh yang lain masih utuh.

Khudi gelisah. Dia merasa ini penemuan penting yang harus diberitahukan kepada orang lain. Namun, dia tidak mau menyentuh binatang itu karena suku Nenets yakin mamut adalah pertanda malapetaka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa barangsiapa menemukan mamut akan mati muda. Khudi bersumpah akan menenangkan penguasa neraka dengan mengorbankan anak rusa kutub dan sesajen vodka. Tapi, Pertama, dia harus menempuh perjalanan 240 kilometer ke selatan, ke kota kecil Yar Sale untuk berkonsultasi dengan teman lamanya Kirill Serotetto yang lebih paham perihal dunia luar. Serotetto mendengarkan cerita temannya lalu bergegas membawanya menemui direktur museum lokal yang membujuk pemerintah setempat untuk menerbangkan Khudi dan Serotetto kembali ke Sungai Yuribey dengan helikopter.
Sayang disayang, saat mereka tiba di beting itu, mamut tersebut telah hilang.

NEGERI RAKSASA

Mamut adalah kelompok gajah bergenus Mammuthus yang telah punah dengan nenek moyang yang meninggalkan Afrika sekitar 3,5 juta tahun lalu dan menyebar ke seantero Eurasia, beradaptasi dengan lingkungan hutan, sabana, dan stepa. Yang paling terkenal di antara makhluk berbelalai ini adalah mamut berbulu tebal, Mammuthus primigenius, sepupu dekat gajah modern dengan ukuran tubuh yang kurang-lebih sama. Binatang ini pertama kali muncul pada pertengahan kala Pleistosen, lebih dari 400.000 tahun lalu, mungkin di Siberia timur laut. Mamut berbulu tebal beradaptasi sangat baik dengan cuaca dingin, berkat lapisan bulu pendek yang tebal rapat, bulu pelindung yang mencapai 90 sentimeter, serta kuping kecil yang ditutupi bulu. Gading besarnya yang melengkung punya fungsi utama untuk bertarung, mungkin juga berguna dalam mengais makanan yang terkubur salju. Karena mamut sering mati dan terkubur dalam endapan yang kemudian beku, banyak jasad binatang itu yang bertahan hingga masa modern, terutama di dalam lapisan tanah beku Siberia yang luas dan tebal.

Sesungguhnya, dongeng alam bawah Nenets benar adanya: tanah bagian dalam di Siberia penuh dengan mamut berbulu tebal. Saat es mencair setiap musim panas, ratusan gading, gigi, dan tulang muncul di tepi sungai, danau, serta di sepanjang pantai. Erosi membebaskan rangka-rangka itu dari tanah beku tempat tulang-tulang itu terbaring selama puluhan ribu tahun. Sejak ahli botani Mikhail Ivanovich Adams menemukan jasad mamut berbulu wol pertama di Siberia pada 1806, sekitar selusin spesimen jaringan lunak lainnya telah ditemukan, termasuk beberapa anak mamut mulai dari yang baru lahir hingga umur setahun. Namun, dari semua jasad berbagai umur itu, tak ada yang selengkap makhluk yang ditemukan Yuri Khudi—dan kini hilang—di Sungai Yuribey.

Pada masa mamut masih hidup, bentang alam di sebagian besar kawasan megafauna itu sangat berbeda dengan tanah lapang nan gersang serta tundra berpaya yang ada di sekeliling Sungai Yuribey masa kini. Saat itu udaranya lebih kering, awan sedikit, dan angin kencang melintasi langit yang sangat biru. Alih-alih tundra, terbentang padang rumput kering yang disebut ahli paleobiologi R Dale Guthrie sebagai stepa mamut. Stepa ini membentang dari Irlandia ke Kamchatka dan menyeberangi jembatan darat Bering ke Alaska, Yukon, dan sebagian besar Amerika Utara. Rerumputan, semak berdaun lebar, dan belukar stepa yang pendek menyediakan makanan bergizi bagi mamut serta berbagai megafauna raksasa yang berbulu lebat—badak berbulu tebal, bison bertanduk panjang bertubuh raksasa, dan berang-berang sebesar beruang, di samping karnivora menyeramkan yang memburu binatang-binatang itu: macan gigi pedang, dubuk gua, serta beruang muka pesek raksasa.

Kemudian, antara 14.000 hingga 10.000 tahun lalu, mamut menghilang dari sebagian besar wilayahnya, bersamaan dengan hilangnya sebagian besar spesies mamalia besar di Belahan Bumi Utara—di beberapa daerah kepunahan ini bahkan mencapai 70 persen. Kepunahan ini demikian meluas, sehingga ada bermacam-macam bencana yang diduga para ilmuwan menyebabkannya—tabrakan meteor, kemarau dan kebakaran, serta penyakit-hiper mematikan yang menyebar antarspesies. Namun, karena kepunahan ini bersamaan waktunya dengan akhir zaman es terakhir, banyak peneliti yakin bahwa penyebab utama kematian massal itu adalah kenaikan suhu yang tajam, yang secara drastis mengubah tetumbuhan. Simulasi komputer baru-baru ini tentang perubahan lanskap pada kala Pleistosen akhir menunjukkan bahwa 90 persen habitat mamut menghilang. “Kami punya bukti kuat bahwa perubahan iklim memainkan peran penting dalam kepunahan mamut,” ujar Adrian Lister, seorang paleontolog dan pakar mamut di Natural History Museum di London. “Di Eurasia, kedua kejadian itu terjadi pada waktu berdekatan.”

Namun, kepunahan itu juga bersamaan waktunya dengan datangnya kekuatan pengubah ekologi yang lain. Manusia modern muncul di Afrika sekitar 195.000 tahun lalu dan menyebar ke Eurasia utara sekitar 40.000 tahun lalu. Seiring berjalannya waktu, populasi manusia yang bertambah besar semakin menekan spesies mangsa. Di samping memanfaatkan mamut sebagai makanan—jantan besar yang dibunuh pada musim gugur dapat menunjang kehidupan kawanan pemburu lapar melewati hari-hari paceklik di musim dingin—mereka menggunakan tulang dan gadingnya untuk membuat senjata, perkakas, patung, dan bahkan tempat tinggal. Beberapa ilmuwan percaya bahwa di samping perubahan iklim, para manusia pemburu yang menggunakan lembing lempar bermata batu runcing ini sama bertanggung jawabnya atas kematian massal tersebut. Beberapa beranggapan, manusialah penyebabnya. Perdebatan mengenai kepunahan megafauna adalah salah satu debat tersengit dalam paleontologi masa kini dan kemungkinan perdebatan itu tidak akan dituntaskan oleh satu spesimen, selengkap apa pun jasadnya. Akan tetapi, Khudi benar bahwa bayi yang sekarang hilang itu—daging, organ dalam, isi perut, tulang, gigi susu, dan gadingnya, semuanya utuh—pasti sangat menarik bagi dunia luar.

Khudi juga curiga bahwa orang yang mau menangani benda semacam itu mungkin akan mendapat untung besar—pedagang gading secara berkala mengunjungi wilayah itu untuk membeli gading mamut dan entah berapa yang akan mereka bayar untuk mamut utuh? Kecurigaan Khudi segera jatuh kepada salah seorang sepupunya yang oleh beberapa orang Nenets dilihat ada di beting itu dan kemudian terlihat pergi naik kereta rusa-kutubnya ke arah kota Novyy Port.

Khudi dan Serotetto bergegas mengejar dengan mobil salju. Setibanya, mereka melihat mamut kecil itu disandarkan di tembok sebuah toko. Orang-orang memotretnya dengan kamera ponsel. Si pemilik toko telah membeli jasad itu dari sepupu Khudi seharga dua mobil salju dan makanan untuk setahun. Walau tidak lagi sempurna—anjing geladak telah menggerogoti sebagian ekor dan telinga kanannya—berkat bantuan beberapa polisi lokal, Khudi dan Serotetto berhasil memperoleh kembali bayi itu. Jasad itu lalu dibungkus dan dikirim dengan helikopter untuk disimpan dengan aman di Museum Shemanovsky di Salekhard, ibu kota wilayah itu.

“Untungnya berakhir bahagia,” ujar Alexei Tikhonov, direktur Museum Zoologi St. Petersburg dan salah seorang ilmuwan pertama yang melihat bayi yang ternyata betina itu. “Yuri Khudi menyelamatkan mamut paling awet yang kita peroleh dari Zaman Es.”

Para pegawai yang berterima kasih menamainya Lyuba, sama dengan istri Khudi.

PETUNJUK DI GIGI

Tikhonov tahu orang yang paling tertarik pada temuan ini pastilah Dan Fisher, kolega Amerikanya di University of Michigan. Fisher seorang paleontolog berusia 59 tahun yang pendiam. Pria berjenggot putih kaku dan bermata hijau cerdas ini sudah mengabdikan sebagian besar dari 30 tahun terakhirnya untuk memahami kehidupan mamut dan mastodon dari kala Pleistosen, dengan cara memadukan studi fosil dengan riset eksperimental langsung. Karena ingin tahu cara pemburu Paleolitikum menyimpan daging mamut agar tidak basi, Fisher menyembelih seekor kuda beban dengan peralatan batu yang ditatahnya sendiri, lalu dagingnya disimpan dalam kolam penyimpanan. Daging tersebut diawetkan secara alami oleh mikrob laktobasilus yang ada di dalam air, sehingga mengeluarkan bau sedikit asam seperti pekasam yang mengusir pemakan bangkai bahkan di saat daging terapung kembali ke permukaan. Untuk menguji apakah daging itu masih bisa dimakan, Fisher mengiris dan makan steik dari daging itu dua pekan sekali mulai dari Februari hingga pertengahan musim panas, memperlihatkan bahwa para pemburu mamut mungkin menyimpan hasil buruan mereka dengan cara yang serupa.

Tikhonov mengundang Fisher ke Salekhard pada Juli 2007, bersama Bernard Buigues, seorang pemburu mamut Prancis yang membantu mengatur studi ilmiah terahdap beberapa mamut yang ditemukan sebelumnya. Baik Fisher maupun Buigues telah memeriksa beberapa spesimen yang lain, termasuk bayi. Namun, semuanya dalam kondisi yang relatif buruk, dan tidak banyak pemeriksaan yang dapat dilakukan. Lyuba sangat berbeda ceritanya.

“Saat pertama melihatnya,” ujar Fisher, “yang pertama terpikir, Ya Tuhan, sempurna sekali—bahkan bulu matanya pun masih ada! Seakan-akan dia sedang tertidur. Tiba-tiba, makhluk yang selama ini susah payah kubayangkan tergeletak di hadapanku, dapat kusentuh.” Selain kehilangan rambut dan kuku, serta kerusakan yang terjadi pasca penemuan, satu kekurangan pada penampilannya yang sempurna itu hanyalah lekuk aneh di wajahnya, tepat di atas belalai. Akan tetapi, kondisi secara umum serta punuk lemak tebal di tengkuk menunjukkan bayi itu berada dalam kondisi prima saat menemui ajal. Pemeriksaan yang lebih mendalam terhadap gigi, organ dalam, isi perut, dan beberapa hal lainnya menjanjikan banyak informasi baru mengenai biologi dan cara hidup mamut normal.

Fisher terutama tertarik pada satu bagian khusus dari anatomi Lyuba: gading susunya. Gading merupakan gigi seri termodifikasi yang terus tumbuh berlapis-lapis sepanjang hayat binatang tersebut. Selama 30 tahun mempelajari gading mamut, Fisher menemukan bahwa lapisan ini bertambah secara bertahap setiap tahun, minggu, dan bahkan hari. Lapisan itu, seperti lingkaran kambium pohon, berisi catatan terperinci mengenai riwayat hidup binatang tersebut. Lapisan yang tebal menandakan gemah ripah rumput musim panas, sementara yang tipis menunjukkan masa paceklik di musim dingin. Dari menipisnya lapisan tersebut secara mendadak sekitar tahun ke-12, Fisher dapat mengetahui kapan jantan muda mencapai kematangan seksual dan diusir oleh induknya dari kawanan matriarkal; beberapa tahun kemudian terlihat tanda-tanda pertempuran sengit antara mamut meta dewasa yang memperebutkan pasangan. Akhirnya, pada lapisan di pangkal gading yang terbentuk paling akhir, Fisher memperoleh petunjuk mengenai cara binatang tersebut menemui ajalnya—lapisan yang perlahan menipis disebabkan oleh cedera, sakit, atau tekanan lingkungan, sementara jika tetap terlihat bagus berarti mati mendadak. Dia juga mendapati bahwa tingkat unsur kimia dan isotop tertentu di gading memberikan data tentang pakan binatang tersebut, situasi iklim, bahkan perubahan lokasi yang signifikan seperti migrasi.

Sepanjang kariernya, Fisher telah mengambil ratusan sampel gading dan dia yakin gading-gading tersebut mengandung jawaban bagi misteri kepunahan besar di kala Pleistosen akhir. Setidaknya di kawasan Great Lakes di Amerika Utara, tempat sebagian besar sampelnya ditemukan, gading mamut dan mastodon memperlihatkan bahwa binatang-binatang tersebut terus berkembang biak, walau terjadi perubahan iklim pada Pleistosen akhir. Di sisi yang lain bagi Fisher, gading itu sering menjadi pertanda adanya perburuan oleh manusia. Sampelnya dari akhir masa kejayaan mamut biasanya berasal dari hewan yang mati pada musim gugur. Saat itu mamut seharusnya memiliki kondisi fisik terbaik setelah merumput selama musim panas, dan kecil kemungkinan mati secara alami. Akan tetapi, saat itu juga manusia pemburu sibuk mengumpulkan cadangan pangan untuk musim dingin yang akan tiba. Gading-gading ini umumnya berasal dari mamut jantan, yang seperti gajah yang masih ada sekarang, mungkin hidup menyendiri dan lebih mudah diburu daripada betina yang hidup dalam kawanan matriarkal. Banyak jasad yang ditemukan dalam rawa gambut atau dalam air, yang menurut Fisher menjadi tempat pengawetan daging kaum pemburu awal. Spesimen Amerika Utara juga memperlihatkan rata-rata usia dewasa semakin rendah seiring waktu, yang menurut Fisher mungkin juga disebabkan oleh maraknya perburuan. Dia tak banyak melakukan penelitian di Siberia, tetapi pengukurannya terhadap gading dari Pulau Wrangel di lepas pantai Siberia timur laut, tempat mamut terakhir mati 3.900 tahun lalu, memberikan kesimpulan yang serupa.

Bagaimanapun, satu persoalan dalam menafsirkan gading mamut adalah gadingnya hampir tak pernah ditemukan terpasang pada binatangnya sendiri, sehingga itu menyulitkan Fisher dalam menguji kebenaran teorinya tentang kesehatan dan usia mamut. Kondisi Lyuba yang luar biasa awet sepertinya akan mengubah hal tersebut. Dengan memberi bukti langsung tentang pakan dan kondisi kesehatannya, isi perut dan usus serta banyaknya lemak di tubuhnya dapat menjadi penegasan independen bagi “jurnal” singkat pola makan yang tercatat dalam gading susunya yang belum keluar. “Dalam kasus ini kami tidak memerlukan mesin waktu untuk melihat seberapa akurat hipotesis kami,” ujar Fisher. Bahkan, karena gading susu tumbuh sejak awal kandungan hingga sekitar saat dilahirkan, Lyuba dapat memberi wawasan baru tentang periode kunci dalam hidup mamut: saat dalam kandungan (diperkirakan 22 bulan, berdasarkan lama kehamilan gajah), serta saat kelahirannya. Sebagai peristiwa traumatis bagi mamalia, momen kelahiran tercatat dalam struktur mikro gigi berupa garis neonatal yang terlihat jelas. Dengan membandingkan perkembangan gading susu milik Lyuba dengan gajah, pada awalnya para ilmuwan memperkirakan Lyuba berusia empat bulan saat menemui ajal. Dengan menghitung penambahan lapisan gading setelah garis neonatal, usianya akan diketahui secara lebih akurat.

Fisher juga tertarik pada misteri forensik tentang bagaimana dan mengapa mamut kecil yang sehat itu mati muda—dan apakah hal itu terkait dengan lekuk dalam yang aneh di wajahnya. “Ciri tersebut langsung terlihat, walaupun pada saat itu saya tak dapat membayangkan apa arti dan penyebabnya,” kata Fisher.

Untuk memulai analisis, sampel jaringan Lyuba dikirim ke Belanda untuk menjalani penanggalan karbon-14 yang memperlihatkan bahwa bayi mamut itu mati sekitar 40.000 tahun lalu. Namun, agar para ilmuwan dapat meneliti dengan lebih saksama, Lyuba sendiri harus berangkat. Pada Desember 2007 Buigues mengatur agar spesimen tersebut dikirim ke Jepang dalam kontainer berpendingin untuk menjalani pindai tomografi komputer oleh Naoki Suzuki dari Fakultas Kedokteran Universitas Jikei. Pemeriksaan tersebut memastikan bahwa kerangka, gigi, dan jaringan lunak Lyuba tidaklah rusak dan sebagian besar organ dalamnya tampak utuh. Sementara itu, ujung belalai, kerongkongan, mulut, dan saluran napasnya berisi endapan padat. Itu membuat Fisher menarik kesimpulan bahwa binatang itu menemui ajal karena mengalami asfiksia (tubuh kekurangan oksigen) di dalam lumpur. Pemindaian juga menunjukkan sejumlah bercak tidak tembus sinar X pada jaringan lunaknya serta distorsi pada tulang-tulang tertentu. Beberapa anomali ini menggarisbawahi teka-teki lain: Setelah 40 alaf terbenam dalam tanah—dan entah berapa lama berada di permukaan—mengapa kondisi Lyuba masih sangat awet?

Kondisi Lyuba yang mengagumkan itu tampak semakin penuh tanda tanya pada Mei 2008, saat Fisher dan Buigues mengunjungi Sungai Yuribey. Tak jauh di hulu beting tempat Lyuba ditemukan, terdapat tebing curam yang bagian bawahnya terus ke atas tak henti digerus air sungai. Bongkah-bongkah lapisan tanah beku, beberapa ada yang sebesar rumah, menggantung di tepi tebing itu. Mungkin Lyuba beku di dalam bongkah seperti itu, yang jatuh ke sungai saat musim panas sebelumnya, mengapung ke hilir, dan akhirnya terdampar di beting ketika sungai yang meluap karena lelehan es akhirnya mencapai ketinggian itu. Tinggal satu masalah: Anak Yuri Khudi menemukan Lyuba di sana pada Mei 2007, sebelum es musim semi mencair. Selain dia naik dari alam bawah dan berjalan sendiri ke beting itu, Satu-satunya penjelasan adalah, Lyuba terbebas dari es abadi dan terdampar di beting itu hampir setahun sebelum ditemukan, saat es mencair pada Juni 2006. Bagi Fisher, saat berdiri di tempat itu dua tahun kemudian, hal itu tidak masuk akal.

“Dia tergeletak di tepi sungai ini selama itu,” katanya kepada Buigues, “termasuk terkena sinar matahari sepanjang musim panas. Mengapa tidak membusuk atau dimakan binatang?”

Fisher dan Buigues sudah mengerahkan segala daya untuk memahami keadaan saat bayi mamut itu menemui ajalnya serta keawetannya yang misterius. Jawaban selanjutnya harus datang dari Lyuba sendiri.

AUTOPSI

Pada 4 Juni 2008, di sebuah laboratorium genetika di St. Petersburg Russia, Fisher, Buigues, Suzuki, Alexei Tikhonov, dan beberapa kolega lainnya mengenakan masker bedah dan pakaian Tyvek putih. Mereka memulai rangkaian pemeriksaan dan prosedur pembedahan maraton selama tiga hari terhadap Lyuba. Sementara dia terbaring di tengah ruangan, di atas meja Plexiglas yang diterangi dari bawah, Suzuki memasukkan endoskop ke dalam lubang perutnya, untuk mengamati ruang kosong yang terlihat saat pindai CT. Para ilmuwan lain menggunakan bor listrik untuk mengambil sampel-inti lemak punuk di tengkuk, mencari tungau di kuping dan bulu, membedah perut, serta mengambil beberapa bagian usus untuk mempelajari apa yang dimakan. Akhirnya, pada hari ketiga, Fisher membedah wajah Lyuba dan mengambil satu gading susu serta empat geraham kecil.

Awalnya, para peneliti menjaga agar Lyuba tetap beku dengan meletakkan tabung plastik berisi es kering di sekeliling jasad bayi mamut itu. Selanjutnya, untuk memungkinkan peneliti mengakses bagian dalam tubuh si mamut, jasad Lyuba dibiarkan melunak, sambil dipantau dengan saksama kalau-kalau ada tanda pembusukan. Saat daging Lyuba menghangat, Fisher mencium bau agak asam yang unik, bau yang serasa dikenalnya tetapi tak dapat dia pastikan. “Seperti orang lain, indra saya terangsang secara berlebih,” ingatnya. “Kami menjejalkan begitu banyak pekerjaan dalam waktu yang sempit. Saya hanya mencamkannya dalam pikiran, lalu melanjutkan kerja.” Dia juga mengamati bahwa gigi mamut itu tidak tertanam di gusi oleh jaringan penyambung yang biasa. Otot Lyuba juga terlepas dari tulang, padahal pada spesimen normal tulang dan otot terikat erat. “Ini sangat mengejutkanku,” kata Fisher. “Saya berulang-ulang membatin, ‘Apa yang terjadi di sini? Apa arti hal ini?’ Tapi tak banyak waktu untuk merenung.”

Area tak tembus sinar x yang terlihat pada pindai CT ternyata kristal vivianit berwarna biru cemerlang, mungkin terbentuk dari fosfat yang larut dari tulang. Fisher mendapati ada campuran padat tanah liat dan pasir di mulut dan kerongkongan Lyuba yang mendukung hipotesis dari pindai CT bahwa dia kehabisan napas, mungkin, dalam lumpur di tepi sungai. Bahkan, endapan di belalai Lyuba demikian padat, sehingga Fisher berpendapat hal itu mungkin menyebabkan lekuk yang terjadi di wajahnya. Jika Lyuba berjuang dengan panik untuk bernapas dan menghirup udara dengan paksa, mungkin tercipta ruang vakum di pangkal belalainya sehingga menyedot jaringan lunaknya hingga menempel ke kening.

Bagi Fisher, penyebab kematian Lyuba sudah jelas. (Suzuki kemudian mengajukan penafsiran yang berbeda karena melihat lebih banyak bukti tentang mati tenggelam dibandingkan mengalami asfiksia.) Pada akhir autopsi, saat Fisher dan para koleganya menjahit kembali tubuh kecil Lyuba, dia akhirnya ingat tentang bau yang khas itu. Setelah pikirannya lebih santai usai upaya intensif tiga hari terakhir, dia tiba-tiba teringat eksperimen kuda bebannya serta bau yang dikeluarkan oleh potongan daging membengkak yang secara alami dijadikan pekasam oleh laktobasilus saat mengapung di kolam. Lyuba memiliki bau yang sama. Akhirnya, kondisi Lyuba yang sangat awet terjelaskan. Secara harfiah, mamut kecil itu terasamkan setelah mati. Itu membuat tubuhnya tidak membusuk saat kembali terpapar udara, ribuan tahun setelahnya. Asam laktat yang dihasilkan mikrob juga dapat menyebabkan distorsi tulang yang unik dan pelepasan otot yang diamati Fisher selama autopsi dan bahkan mungkin mendorong pembentukan kristal vivianit dengan cara melepaskan fosfat dari tulang.

Jadi, Lyuba mungkin tewas karena tergelincir di dekat sungai berlumpur dan diawetkan demi ilmu pengetahuan oleh kombinasi antara kebetulan biokimia dan oleh tekad bulat seorang gembala Nenets. Walau penelitian masih berlangsung, Lyuba sudah mulai mengungkap rahasia mengenai hidupnya yang singkat dan beberapa petunjuk tentang nasib spesiesnya. Keadaannya yang sehat dan cukup makan juga terlihat di perkembangan giginya menjadi suatu pengesahan yang memuaskan Fisher karena catatan gigi seperti itu adalah sampel yang akurat. Dengan demikian, evaluasi kesehatan dapat dilakukan berdasarkan gigi saja—dan itu menjadi kunci untuk meneliti penyebab kepunahan mamut. Analisis DNA-nya yang awet menunjukkan bahwa bayi ini jelas termasuk populasi Mammuthus primigenius tertentu yang, tak lama setelah kematiannya, digantikan oleh populasi lain yang bermigrasi ke Siberia dari Amerika Utara. Khusus untuk Lyuba, ditemukan ususnya mengandung tinja mamut dewasa, mungkin induknya: suatu bukti bahwa anak mamut, seperti saudara gajah modernnya, memakan kotoran induknya untuk mengisi usus dengan mikrob, sebagai persiapan untuk mencerna tumbuhan.

Akhirnya, gading dan geraham kecil Lyuba memperlihatkan bahwa dia lahir pada akhir musim semi dan baru berumur sebulan saat mati. Beberapa lapisan terluar gadingnya sesuai dengan pola yang dikaitkan Dan Fisher dengan kematian mendadak: rangkaian hari makmur yang berakhir dengan tak disangka-sangka.

Resep Kebangkitan

“Saya dulu tertawa mendengar Steven Spielberg mengatakan bahwa pengklonan binatang yang sudah punah tak terelakkan,” ujar Hendrik Poinar dari McMaster University, pakar DNA purba yang menjadi konsultan ilmiah bagi film tentang pembuatan Jurassic Park. “Tapi kini tak lagi saya tertawakan, setidaknya menyangkut mamut. Hal ini akan terjadi. Tinggal masalah detailnya saja.”

Namun sebagaimana diakui sendiri oleh Poinar, detail-detail itulah yang menjadi persoalan berat. Ada dua langkah kunci dalam pengklonan atau peminakan mamut atau binatang yang telah punah lainnya, yaitu mendapatkan urutan DNA yang lengkap—dalam kasus mamut, diperkirakan lebih dari 4,5 miliar pasangan basa—dan mengubah data ini menjadi darah dan daging. Publikasi tentang sebagian genom mamut menjadi langkah awal yang bagus bagi masalah pertama, walaupun 30 persen genom sisanya masih harus ditemukan dan keseluruhan genom itu harus diurutkan ulang berkali-kali untuk membuang DNA-DNA lain yang selama berabad-abad bercampur dalam DNA mamut seiring dengan menurunnya kualitas DNA tersebut. Para ilmuwan juga perlu mengemas DNA menjadi kromosom—dan saat ini mereka bahkan tidak tahu jumlah kromosom yang dimiliki mamut. Namun, tak satu pun dari semua pekerjaan itu yang tampak mustahil, terutama mengingat kemajuan teknis belakangan ini, seperti generasi baru pengurut DNA berkecepatan tinggi serta teknik yang murah dan sederhana untuk memulihkan DNA berkualitas tinggi dari rambut mamut. “Ini hanya soal waktu dan uang, bukan lagi masalah teknologi,” ujar Schuster.

Mengubah data ini menjadi mamut berbulu tebal jauh lebih sulit, walaupun keberadaan kerabat dekatnya yang masih hidup, gajah Asia dan Afrika, dapat membantu. Tim Pennsylvania State University menggunakan genom gajah Afrika sebagai panduan dalam merakit ulang potongan-potongan DNA mamut yang mereka peroleh dari sampel rambut. Karena DNA purba ini tidak lengkap untuk digunakan membuat organisme, satu cara membuat bahan genetis mamut yang hidup adalah bisa dengan memodifikasi kromosom gajah pada satu dari setiap sekitar 400.000 tempat yang berbeda. Titik-titik itulah yang membedakan gajah dengan mamut sehingga dengan memodifikasinya, diubahlah sel gajah menjadi sel mamut. Jika para peneliti mampu menemukan cara menyusun DNA mamut menjadi kromosom, strategi lainnya adalah membuat seluruh genom itu dari nol, walaupun sejauh ini genom terbesar yang dapat dihasilkan baru seperseribu dari ukuran genom mamut.

Begitu memeroleh kromosom mamut yang dapat dipakai, para ilmuwan dapat membungkusnya dalam sebuah membran untuk membuat inti sel buatan. Kemudian mereka dapat meniru metode yang pertama kali dipakai untuk membuat Dolly, domba yang diklon pada 1996 oleh para ilmuwan di Roslin Institute di Skotlandia: buang inti sel telur gajah dan gantikan dengan inti sel telur mamut buatan, beri rangsangan listrik untuk memicu sel telur membelah menjadi embrio, dan akhirnya memindahkan embrio itu ke dalam rahim gajah agar dikandung. Setiap langkah ini mengandung potensi masalahnya sendiri-sendiri. Misalnya, tak ada yang tahu cara membuat inti sel mamut. Mengambil sel telur gajah tidaklah mudah dan membesarkan fetus mamut hingga lahir dalam uterus gajah juga penuh ketidakpastian.

“Saya dulu tertawa mendengar Steven Spielberg mengatakan bahwa pengklonan binatang yang sudah punah tak terelakkan,” ujar Hendrik Poinar dari McMaster University, pakar DNA purba yang menjadi konsultan ilmiah bagi film tentang pembuatan Jurassic Park. “Tapi kini tak lagi saya tertawakan, setidaknya menyangkut mamut. Hal ini akan terjadi. Tinggal masalah detailnya saja.”

Namun sebagaimana diakui sendiri oleh Poinar, detail-detail itulah yang menjadi persoalan berat. Ada dua langkah kunci dalam pengklonan atau peminakan mamut atau binatang yang telah punah lainnya, yaitu mendapatkan urutan DNA yang lengkap—dalam kasus mamut, diperkirakan lebih dari 4,5 miliar pasangan basa—dan mengubah data ini menjadi darah dan daging. Publikasi tentang sebagian genom mamut menjadi langkah awal yang bagus bagi masalah pertama, walaupun 30 persen genom sisanya masih harus ditemukan dan keseluruhan genom itu harus diurutkan ulang berkali-kali untuk membuang DNA-DNA lain yang selama berabad-abad bercampur dalam DNA mamut seiring dengan menurunnya kualitas DNA tersebut. Para ilmuwan juga perlu mengemas DNA menjadi kromosom—dan saat ini mereka bahkan tidak tahu jumlah kromosom yang dimiliki mamut. Namun, tak satu pun dari semua pekerjaan itu yang tampak mustahil, terutama mengingat kemajuan teknis belakangan ini, seperti generasi baru pengurut DNA berkecepatan tinggi serta teknik yang murah dan sederhana untuk memulihkan DNA berkualitas tinggi dari rambut mamut. “Ini hanya soal waktu dan uang, bukan lagi masalah teknologi,” ujar Schuster.

Mengubah data ini menjadi mamut berbulu tebal jauh lebih sulit, walaupun keberadaan kerabat dekatnya yang masih hidup, gajah Asia dan Afrika, dapat membantu. Tim Pennsylvania State University menggunakan genom gajah Afrika sebagai panduan dalam merakit ulang potongan-potongan DNA mamut yang mereka peroleh dari sampel rambut. Karena DNA purba ini tidak lengkap untuk digunakan membuat organisme, satu cara membuat bahan genetis mamut yang hidup adalah bisa dengan memodifikasi kromosom gajah pada satu dari setiap sekitar 400.000 tempat yang berbeda. Titik-titik itulah yang membedakan gajah dengan mamut sehingga dengan memodifikasinya, diubahlah sel gajah menjadi sel mamut. Jika para peneliti mampu menemukan cara menyusun DNA mamut menjadi kromosom, strategi lainnya adalah membuat seluruh genom itu dari nol, walaupun sejauh ini genom terbesar yang dapat dihasilkan baru seperseribu dari ukuran genom mamut.

Begitu memeroleh kromosom mamut yang dapat dipakai, para ilmuwan dapat membungkusnya dalam sebuah membran untuk membuat inti sel buatan. Kemudian mereka dapat meniru metode yang pertama kali dipakai untuk membuat Dolly, domba yang diklon pada 1996 oleh para ilmuwan di Roslin Institute di Skotlandia: buang inti sel telur gajah dan gantikan dengan inti sel telur mamut buatan, beri rangsangan listrik untuk memicu sel telur membelah menjadi embrio, dan akhirnya memindahkan embrio itu ke dalam rahim gajah agar dikandung. Setiap langkah ini mengandung potensi masalahnya sendiri-sendiri. Misalnya, tak ada yang tahu cara membuat inti sel mamut. Mengambil sel telur gajah tidaklah mudah dan membesarkan fetus mamut hingga lahir dalam uterus gajah juga penuh ketidakpastian.

Beberapa ilmuwan menangani tantangan yang tidak sesulit itu: mengklon binatang yang terancam atau yang baru saja punah. Kebun binatang San Diego dan Audubon Center for Research of Endangered Species di New Orleans sama-sama memiliki “kebun binatang beku,” tempat DNA spesies terancam punah yang semakin banyak jumlahnya itu disimpan di dalam tangki nitrogen cair pada suhu minus 196° Celsius. Pada 2003, dengan menggunakan sel yang disimpan di fasilitas San Diego itu, para ilmuwan di Advanced Cell Technology berhasil meminak binatang menggunakan uterus spesies lain yang bergenus sama. Mereka membuat dua ekor banteng (Bos javanicus) yang terancam punah dengan menyisipkan DNA banteng itu ke dalam sel telur sapi lokal, lalu memasukkan embrio yang dihasilkan ke dalam rahim sapi induk. Ada wacana tentang penggunaan metode serupa untuk meminak panda raksasa, antelop bongo Afrika, dan harimau Sumatra. Ujung-ujungnya, para ilmuwan berharap dapat menciptakan kembali spesies yang telah punah seperti ibeks Pyrenees (Capra pyrenaica pyrenaica) dan harimau Tasmania (Thylacinus cynocephalus).

Saat ini pertanyaan paling menohok tentang pengklonan binatang yang telah punah lebih ke persoalan etis, bukan teknis. “Mamut, seperti juga gajah, adalah binatang yang cerdas dan hidup berkawan,” ujar Adrian Lister, paleontolog dan pakar mamut di Natural History Museum di London. “Pengklonan membuat kita mendapat satu ekor binatang yang akan hidup sebatang kara di taman nasional, kebun binatang, atau laboratorium—bukan di habitat aslinya yang sudah tak ada lagi. Kita pada dasarnya membuat tontonan.” Tom Gilbert, pakar DNA purba di Copenhagen University yang bersama Schuster dan Webb memelopori pengambilan DNA mamut dari rambut mengakui bahwa sebagai murid dari mamut, dia ingin menjadi yang pertama yang melihat mamut berjalan di dalam kandang. Namun, dia mempertanyakan manfaat dan bijak-tidaknya mengklon spesies yang punah. “Jika kita dapat mengklon mamut, kita dapat mengklon semua yang telah mati, termasuk nenek kita. Tapi dalam dunia yang mengalami pemanasan global dan dengan dana terbatas untuk riset, apakah kita benar-benar ingin menghidupkan kembali nenek kita yang telah mati?”

Oleh Tom Mueller
Foto oleh Museum dan Galeri Seni Tasmanian

sumber : National Geographic Indonesia